Kamis, 13 Oktober 2022

RATU LAUT KIDUL ADALAH NUSANTARA

RATU LAUT KIDUL ADALAH NUSANTARA


Sampurasun,
Seperti biasanya... catatan saya selalu 'berseberangan' dengan pemahaman umum... :) jadi anggap saja sebagai anti-thesis atau alternatif sudut pandang sejarah Nusantara... Hal ini saya lakukan karena ketidak-percayaan saya terhadap peristiwa sejarah di Ibu Pertiwi tercinta ini, yang dibuktikan oleh semakin merosotnya rasa nasionalisme kita serta meruncingnya perpecahan antar"ras" dan "agama" di lingkungan masyarakat Indonesia... bagi saya "sejarah itu harus berkelanjutan dan bersifat logis-sistematis" maka, jika ada yang tidak enak dibaca (TIDAK LOGIS) sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf sebesar-besarnya.
---------------

Konflik sosial yang ditandai oleh sebutan "orang Jawa" dan "orang Sunda" ataupun sebutan "orang Majapahit" dan "orang Pajajaran" hingga saat ini masih terus bergulir, ketajaman fenomena tersebut dipicu oleh "Tragedi Bubat" yang mengisahkan pembantaian 70 orang berstatus RAMA (sesepuh / kelompok spiritual) dari 70 Kabuyutan (tempat suci) di Jawa Barat (Pa-Ra-Hyang ) yang dipimpin oleh Hyang Linggabuana. Salah-satu tugas RAMA pada masa itu adalah melantik para
DATU (raja kecil) dan RATU (Maharaja).

Tri-Su-La Naga-Ra
Pembantaian para RAMA itu dilakukan oleh Gan Eng Cu (Gajah Mada) seorang patih dari Kahuripan, secara politis dan strategi perang Gan Eng Cu bertugas menggagalkan pelantikan Maharaja Nusantara yang sedianya akan dijabat oleh Hayam Wuruk. Hal ini ditandai dengan direbutnya Pataka Nusantara yang bernama Citra (cap) Resmi (sah) Dyah (pengukuhan) Pita (pengikat / pemersatu) Loka (wilayah), yaitu Tanda Lambang Penguasa Persatuan Ibu Pertiwi (*dalam bahasa asingnya adalah STATUES SYMBOL OF UNITED KINGDOM :)

*** Patut dipahami bahwa; hasil pelantikan Maharaja Nusantara itu (kelak) harus diberitakan / disebar-luaskan ke seluruh DUNIA, sebab berkaitan erat dengan bermacam perjanjian (multilateral ataupun bilateral); baik itu menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial serta ketatanegaraan lainnya di seluruh dunia yang berhubungan dengan Maharaja Nusantara pada waktu itu.

Selanjutnya setelah "Lambang Penguasa Ibu Pertiwi" itu dapat direbut oleh Gan Eng Cu lalu kita mendengar tentang Sumpah PALAPA, konon isinya bahwa Gajah Mada akan mempersatukan Nusantara... hehehe... ini jelas mustahil, sebab pada waktu itu Keraton Nusantara sedang giat-giatnya digempur oleh pasukan Cina Utara/ bangsa Mongol (pasukan perang Islam), baik gempuran militer, ideologi, religi, ekonomi, politik, dll.... singkatnya, yang disebut Bumi Nusantara pada saat itu secara devacto hanya tinggal sebesar Pulo Jawa dan Bali... sebab hampir seluruh Kedatuan (Kedaton) di Nusantara telah dikuasai musuh, ditandai dengan berobahnya gelar DATUK menjadi SULTAN , seperti yang terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dst.

Dengan Gan Eng Cu menguasa lambang United Kingdom of Nusantara , maka Hayam Wuruk tidak dapat dianggap sebagai Maharaja (Ratu) Nusantara dan sudah tentu Gan Eng Cu (Gajah Mada) dapat berbicara apapun dengan dalih MEMPERSATUKAN NUSANTARA yang sebenarnya adalahMENGUASAI BUMI NUSANTARA di bawah kekaisaran CinaUngkapan atas 'gugur'-nya Citra Resmi Dyah Pita Loka merupakan siloka atas keruntuhan Kemaharajaan (RATU) Nusantara atau hilangnya kedaulatan Nusantara di bawah kekuasaan pasukan Cina Utara / Mongol yang menganut ajaran Islam. Sejak itulah ajaran Islam mulai menyebar keberbagai pelosok Nusantara, khususnya di pulo Jawa. Kejadian ini pun ditandai dengan adanya Wali Sanga (9 Wali) yang seluruhnya bangsa Cina Utara, seperti; Bong Swie Ho, Bong Ta Keng, Gan Si Ciang, Jat Tik Su, Tan Eng Hoat, Kin San, dll.

Di daratan nusa Jawa, hubungan antara kewilayahan RAMA (Jawa Barat) dengan RATU (Jawa Timur) otomatis berhasil dilumpuhkan (pada saat itu Jawa Tengah belum ada). Artinya, wilayah sakral(Kabuyutan agung/ Pa-Ra-Hyang) yang berisi para sesepuh/ kokolot penjaga ajaran SUNDA (Matahari) sama sekali tidak dapat berbuat banyak sebab isinya hanya kakek-kakek (para Guru Besar), tidak memiliki pasukan perang. Dilain pihak wilayah Jawa Timur sebagai pusat pemerintahan Nusantara sudah dilumpuhkan.

Ketika Jawa Timur (RATU) sudah LUMPUH maka Ibu Kota Nusantara terpaksa dipindahkan ke Jawa Barat (RAMA), artinya RAMA dan RATU bersatu pada sebuah wilayah (Pakuwuan Pajajaran), maka secara prinsip Bumi Nusantara itu tersisa hanya tinggal sebesar Jawa Barat saja... lalu gempuran PENUTUP dan TERAKHIR dilakukan oleh pasukan Islam dengan mengepung wilayah Jawa Barat melalui pengerahan pasukan perang dari Kasultanan Cirebon serta Kasultanan Banten... dan Kemaharajaan Nusantara (Pajajaran Nagara) berkahir di Talaga (Kuningan) .... boleh jadi Laksamana Laut Ma Ceng Ho datang sebagai pasukan khusus "untuk membersihkan sisa pasukan Pajajaran Nagara yang masih setia dan untuk memastikan runtuhnya Kemaharajaan Nusantara.

Setelah peristiwa Pajajaran Nagara Runtag di Talaga, maka terhapus pula nama NUSANTARA dari peta dunia dan selama 300 tahun lebih negara kita TIDAK BERNAMA... hingga suatu saat orang-orang barat menyebutnya sebagai "Kepulauan India Kecil" (Indu Nesia), hingga kelak oleh Ki Hajar Dewantara mengukuhkan menjadi INDONESIA.

Kemaritiman Nusantara secara prinsip dilumpuhkan oleh Raden Patah (Jin Bun) dengan menguasai pusat galangan kapal terbesar se-Asia Tenggara yaitu DEMAK. Memutuskan hubungan antar pulau (jalur perahu) atau jalur ke luar pulo Jawa menjadi sangat efektif sehingga Ibu Kota Nusantara tidak bisa mendapat bantuan dari sekutunya (Thailand, Vietnam, Kamboja, dst) pun kesulitan bagi pasukan maritim Inggris Raya... (*boleh jadi itu sebabnya Singapura dan Malaysia diambil alih oleh Inggris sedangkan Nusantara pada waktu itu seolah-olah dilewati begitu saja)... atau karena Eropa sedang memasuki masa Renaissance (?). (*patut diingat, pada abad 17 kerajaan Inggris mengirim VOC dari India untuk membantu urusan perdagangan di bekas Kemaharajaan Nusantara).

Inggris sebagai 'pewaris' kejayaan negeri maritim Nusantara

Berdasarkan sejarah, bangsa Viking (bangsa Utara) merupakan leluhur bangsa-bangsa di Eropa dan di kemudian hari mereka bergabung dalam persatuan BRITANIA RAYA atau sering disebut UNITED KINGDOM yang dipimpin oleh Inggris. Di lain pihak sejak jaman awal hingga sebelum gempuran musuh masuk ke Nusantara, negara kita ini merupakan negara ADIDAYA yang menguasai Samudra di belahan Bumi bagian Selatan, itu sebabnya negeri kita disebut sebagai KEMAHARAJAAN MARITIM (RATU SAMODRA) dan bangsa Indonesia lebih akrab menyebutnya sebagai RATU LAUT KIDUL.

Begitulah kisah DUA KEMAHARAJAAN MARITIM YANG DULU MENGUASAI DUNIA...

Britania Raya hingga saat ini masih berdiri tegak dengan kemakmurannya, bahkan mata uang mereka berada pada posisi yang tinggi... ironis... di wilayah bekas
Pajajaran Nagara (Nusantara) ini kita masih sibuk dengan hal-hal kecil seperti "kesukuan, ras, keagamaan, keekonomian... dan sebagainya".... Apakah ini semua DAMPAK...??? atau sebenarnya SERANGAN ITU MASIH BERLANGSUNG namun dengan 'baju' yang berbeda...??? dan kita putra-putri pewaris Nusantara tidak menyadarinya.

*** jika paparan di atas ada yang tidak logis, dengan rendah hati saya mohon bantuan untuk mengkoreksinya... Hatur Nuhun... hal ini semata demi "KEMERDEKAAN & KEDAULATAN ATAS SEJARAH DAN ILMU PENGETAHUAN DI NEGERI SENDIRI...!"
Neda Hampura Sapapanjangna
Rahayu Salawasna
Hung Ahuuung.

Rabu, 12 Oktober 2022

"Kepulauan India Kecil" (Indu Nesia), hingga kelak oleh Ki Hajar Dewantara mengukuhkan menjadi INDONESIA.

Kemaritiman Nusantara secara prinsip dilumpuhkan oleh Raden Patah (Jin Bun) dengan menguasai pusat galangan kapal terbesar se-Asia Tenggara yaitu DEMAK. Memutuskan hubungan antar pulau (jalur perahu) atau jalur ke luar pulo Jawa menjadi sangat efektif sehingga Ibu Kota Nusantara tidak bisa mendapat bantuan dari sekutunya (Thailand, Vietnam, Kamboja, dst) pun kesulitan bagi pasukan maritim Inggris Raya... (*boleh jadi itu sebabnya Singapura dan Malaysia diambil alih oleh Inggris sedangkan Nusantara pada waktu itu seolah-olah dilewati begitu saja)... atau karena Eropa sedang memasuki masa Renaissance (?). (*patut diingat, pada abad 17 kerajaan Inggris mengirim VOC dari India untuk membantu urusan perdagangan di bekas Kemaharajaan Nusantara).

Inggris sebagai 'pewaris' kejayaan negeri maritim Nusantara

Berdasarkan sejarah, bangsa Viking (bangsa Utara) merupakan leluhur bangsa-bangsa di Eropa dan di kemudian hari mereka bergabung dalam persatuan BRITANIA RAYA atau sering disebut UNITED KINGDOM yang dipimpin oleh Inggris. Di lain pihak sejak jaman awal hingga sebelum gempuran musuh masuk ke Nusantara, negara kita ini merupakan negara ADIDAYA yang menguasai Samudra di belahan Bumi bagian Selatan, itu sebabnya negeri kita disebut sebagai KEMAHARAJAAN MARITIM (RATU SAMODRA) dan bangsa Indonesia lebih akrab menyebutnya sebagai RATU LAUT KIDUL.

Begitulah kisah DUA KEMAHARAJAAN MARITIM YANG DULU MENGUASAI DUNIA...

Britania Raya hingga saat ini masih berdiri tegak dengan kemakmurannya, bahkan mata uang mereka berada pada posisi yang tinggi... ironis... di wilayah bekas
Pajajaran Nagara (Nusantara) ini kita masih sibuk dengan hal-hal kecil seperti "kesukuan, ras, keagamaan, keekonomian... dan sebagainya".... Apakah ini semua DAMPAK...??? atau sebenarnya SERANGAN ITU MASIH BERLANGSUNG namun dengan 'baju' yang berbeda...??? dan kita putra-putri pewaris Nusantara tidak menyadarinya.

*** jika paparan di atas ada yang tidak logis, dengan rendah hati saya mohon bantuan untuk mengkoreksinya... Hatur Nuhun... hal ini semata demi "KEMERDEKAAN & KEDAULATAN ATAS SEJARAH DAN ILMU PENGETAHUAN DI NEGERI SENDIRI...!"
Neda Hampura Sapapanjangna
Rahayu Salawasna
_/|\_ Hung Ahuuung.

Senin, 10 Oktober 2022

sekelumit kisah syeh siti jenar-3

Syeh Lemah Bang menepati janji, Datang pada hari Jum’at, Tepat pada bulan Ramadlan, Bersamaan dengan tanggal lima, Kumpulnya Para Auliya’, Pada waktu malam hari, Telah disiapkan tempat yang sepatutnya.

Seluruh Para Wali, Hendak membahas masalah Ilmu Rahsa (Ilmu Sejati). Di Giri Gajah tempatnya,Bermusyawarah, Tentang pencapaian masing-masing, Akan kebenaran Hyang Agung ( Maha Agung ), Untuk saling dinyatakan kepada semua yang hadir.

Mereka yang tengah mendalami Ilmu (Sejati), Apabila tajam kesadarannya, Akan terang pemahamannya, Begitulah orang yang berguru mendalami Ilmu (Sejati), Menyibak pusat rasanya rasa, Menguliti segala perlambang dan simbolisme, Hanya dengan demikian intisari (esensi)nya bisa didapatkan.

Walaupun banyak wejangan ( berbagai metode dan konsep), Intisari (esensi)-nya pasti sama, Tinggal bagaimana kesadaran kita mampu menangkapnya, Setelah genap semua yang hadir, Kangjeng Sinuhun Benang, Yang memulai, Lantas Sinuhun Kalijaga.

Kemudian Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) dan adik beliau, Tengah membicarakan cara menghadapi Syeh Lemah Bang, Juga Sunan Majagung, Sinuhun Banten, Dipimpin oleh Sunan Giri Gajah, Hendak membahas Ilmu (Sejati), Mengungkapkan pencapaian masing-masing.

Jeng Sinuhun Ratu Giri, Memulai pembicaraan,Hai saudaraku semuanya,
Etika manusia yang telah mencapai Ma’rifat ( Pencapaian spiritual tertinggi ),Tidak pantas jika saling berebut benar, Maka dari itu mari satukan pendapat, Dan saling ingat mengingatkan.

Semua Wali harus menyatu, Jangan berbantahan sendiri-sendiri, Satukan pendapat kita, Tentang kebenaran Tuhan (yang telah kita capai masing-masing), Lantas Sinuhun Benang, Memulai pertama kali, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau.

Menurut pendapatku, Tingkatan Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an), dan Ma’rifat ( Melihat Kebenaran Sejati ), Masih harus ditambah lagi satu tingkatan yaitu MENYADARI KESEMPURNAAN SEJATI, Apabila masih dalam tingkat Ma’rifat, Belumlah sempurna, Karena masih sekedar ‘MELIHAT’, belum ‘MENYADARI’. Sehingga masih mengira-ngira.

Sinuhun Benang meyakini benar, Kesempurnaan Ma’rifat, Kosong Hilang Penglihatan makhluk, Tiada lagi yang terlihat, Karena keadaan sang pelihat, Hanya ‘MELIHAT’ PANGERAN KANG AGUNG (TUHAN YANG AGUNG), (Tiada lagi terlihat lain, kecuali hanya) Yang Menyembah dan Yang Disembah.

Jelasnya maksudku (Sunan Benang) ini, Kesempurnaan Sejati, Adalah terliputi selamanya ( oleh Dzat-Nya ), Tiada lagi gerak (makhluk), Tiada lagi kehendak (makhluk), Buta tuli bisu kosong (kemakhlukan kita), Dan segala gerak dan kehendak hanya dari Allah.

Lantas Sinuhun Benang, Menanyakan kepada Para Wali, Wahai saudaraku semua, Inilah Kekasih Semesta, Yang ada didalam diri kita semua, Yaitu Ruh kita ini, Dan nama Ruh kita sebenarnya adalah Muhammad ( Yang Terpuji).

Tiada beda semua Ruh itu, Apabila diperbandingkan, Tak ada beda satu sama lainnya, Bagaimanakah pendapat saudaraku semua? Menjawab semua Wali, Sudah benar apa yang anda yakini, Kami semua sependapat.

Manakah sesunguhnya yang dinamakan Nabi Muhammad, Sesungguhnya adalah nama dari Ruh, Itulah Kekasih Allah, Sebelum semuanya tercipta, Berada dalam Jinaten Tunggal (Kesejatian Tunggal/ Jadi Satu dengan Allah), Lantas ditiupkan dahulu, Sebagai perwujudan Allah. ( Sunan Benang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Ruh manusia dan Allah adalah SATU. Tapi beliau tidak terang-terangan mengatakannya.)

Sinuhun Majagung kemudian, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Menurut pendapatku ( Sunan Majagung ), Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an ) dan Ma’rifat ( Pencapaian tertinggi spiritual), Tidak ada gunanya di akherat (kata akherat maksud Sunan Majagung adalah PUNCAK SPIRITUAL) nanti, Hanya dibutuhkan pada saat ini saja ( Termasuk konsep belaka), Di akherat tidak ada.

Wujud nyata Kawula ( Hamba ) dan Gusti ( Tuhan ) hanya ada didunia ini, Terlihat memuji dan menyembah, Padahal sesungguhnya, Di akherat tidak terlihat Dua ( maksudnya Kawula dan Gusti. Intinya Sunan Majagung hendak berkata Kawula dan Gusti itu SATU, tapi sama seperti Sunan Benang, beliau juga tidak terang-terangan), Apabila tidak mempunyai Iman ( Keyakinan ) tentang hal ini, Tidak akan tahu Kesejatian Ilmu, (Apabila tidak mengetahui Kesejatian Ilmu, maka ) tidak lengkap menjadi manusia.

Jeng Sunan Gunungjati, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sesungguhnya Ma’rifat itu, Penglihatannya hanya melihat Tuhan semata, (Apabila sudah mengetahui Tuhan, maka akan menyadari) Tidak ada yang lain lagi selain Dia, Tak ada yang kedua dan ketiga ( Sunan Gunungjati sebenarnya juga hendak mengatakan, TIDAK ADA LAGI KAWULA DAN GUSTI JIKA TELAH MENCAPAI MA’RIFAT, YANG ADA CUMA GUSTI. TIDAK ADA LAGI DUALITAS, ATAU TRINITAS LAGI. KAWULA DAN GUSTI ADALAH SATU. Karena KAWULA telah lebur kedalam GUSTI. INILAH TAUKHID. INILAH KE-ESA-AN. Tapi, beliau sama seperti Sunan Benang dan Sunan Majagung, tidak berani mengatakan terang-terangan). Hanya Allah Yang Maha Tunggal.

Sunan Kalijaga berbicara, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sadarlah senantiasa, Jangan sampai tergoyahkan, Senantiasa Menyadari Adanya Tuhan, Bagaimana cara menyadari-Nya? Bukankah Tuhan tidak ber-Wujud?

Tidak ber-Kedudukan disuatu tempat juga Tidak ber-Bentuk, Tidak ada Wujud-Nya, Tanpa Ruang dan Waktu, Sesungguhnya ALLAH TIDAK ADA, (Allah yang personil, yang berpribadi seperti yang dipahami orang awam) APABILA BEGITU, Sesungguhnya ALLAH ITULAH KEKOSONGAN ABADI, DIA TIDAK BERWUJUD. (Sunan Kalijaga tidak mau membicarakan tentang KESATUAN WUJUD (WAJIBUL WUJUD) seperti yang lain. Beliau hanya memberikan gambaran bahwasanya apa yang dinamakan Allah itu adalah KEKOSONGAN ABADI YANG MUTLAK, SUMBER SEGALANYA. Jadi, jika kita MENYATU LAGI DENGAN YANG MUTLAK itu, maka itu dimungkinkan. Sunan Kalijaga, tidak mau membahas tentang MANUNGGALING KAWULA GUSTI. Karena beliau sepaham dengan Syeh Siti Jenar.)

Syeh Benthong lantas berkata, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Yang disebut Allah sesungguhnya, Tak lain adalah Kawula ( Hamba ) ini juga, Yang menjadi KENYATAAN WUJUD-NYA, Benar-benar nyata Ada-Nya terlihat pada Kawula-Nya, Karena Gusti (Tuhan) dan Kawula (Hamba) adalah Satu. ( Syeh Benthong lebih berani berbicara. Terlihat disini.)

Kangjeng Maulana Maghribi, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Yang disebut Allah sesungguhnya, WAJIBUL WUJUD (WUJUD YANG HARUS ADA). ( Syeh Maulana Maghribi, tidak mau berbicara dalam. Terlihat disini). Dan Syeh Lemah Bang kemudian berkata, Jangan berputar-putar, IYA INGSUN IKI ALLAH. (IYA AKU INI TUHAN).

Nyatalah AKU yang Sejati, Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud ‘jargon’ spiritual waktu itu). Tidak ada lagi yang lain, Apa yang disebut Allah itu. Maulana Maghribi berkata, Yang anda tunjuk itu adalah jasad, Syeh Lemah Bang menjawab.

Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati, Membahas tentang Kesatuan Wujud, Tidak membahas Jasad (yang fana), Jasad sudah terlampaui, Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu, Membuka Segala Rahasia.

Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu, Tidak ada yang berbeda, Sungguh tiada beda, Sedikitpun tidak, Menurut pendapat hamba, Meyakini bahwasanya Ilmu itu,Semuanya sama.

Kangjeng Syeh Maulana Maghribi, Sambil tersenyum berkata, Benarlah sesungguhnya apa yang kamu katakan, Akan tetapi itu bukan bahan pembicaraan, Apabila sampai terdengar, Oleh banyak orang sangat tabu,Hal itu bukan bahan percakapan.

Ucapkanlah sendiri, Jangan sampai terdengar oleh orang lain, Cukup terdengar oleh telinga sendiri, Hal itu adalah Sabda larangan, Apabila bisa, Saya menyarankan, Janganlah seperti itu.

Lantas Jeng Sinuhun Giri, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sudah pasti Allah itu sesungguhnya, Bergelar Prabhu Sadmata, Janganlah semua yang hadir disini sembrono dalam berbicara, Dia tidak ada bandingannya, Hanya Allah Yang Maha Tunggal.

Mendengar kata-kata Sunan Giri ( yang turun ketingkat syari’at), Seluruh Wali terdiam dan menta’ati, (Sunan Giri berkata kepada Syeh Lemah Bang), Hanya kamu wahai Syeh Lemah Bang, Tidak bisa dihalangi, Tidak bisa dicegah oleh semua Wali, Tetap tak berubah pendapat kamu.

Berkata Syeh Siti Brit, Sudah menjadi tekad hamba, Bagaimanapun juga,
Karena semua itu adalah wejangan, Diwejangkan kepada hamba, Oleh Guru hamba, Tidak bisa lagi dirubah.

Dipaksapun tidak bisa surut, Dibujuk oleh semua Para Wali, Tak pula berubah tekadnya, Sudah menjadi ucapan umum, Dan sudah menjadi hukum syariat, Demikian Sunan Cirebon ( Sunan Gunungjati) berkata,Janganlah tuan seperti itu.

Sudah ditentukan, Hukumnya adalah dibunuh (Qisas), Khusus bagi mereka, Yang mengaku Allah, Berkata Syeh Lemah Bang, Segeralah laksanakan, Jangan ditunda-tunda lagi.

Memang sudah saya niati, Mencari kematian yang bagaimana lagi, Sebab bersamaan dengan kematian, AKAN DATANG KASIH-NYA, YANG MELIPUTI AKU, DAN KEKOSONGAN YANG SEJATI AKAN DATANG PADAKU. Tidak perlu disesali sebab diriku ini memang terdiri dari YANG KEKAL (Ruh) dan YANG FANA (Nafs dan Jasad).

Mau mencari apa lagi? Tidak ada lagi pencapaian yang lebih sempurna (selain hal ini). Yang fana selamanya pasti akan kembali ke fana, Yang kekal akan kembali kepada Allah Yang Tunggal, Dan jasadku yang sesungguhnya adalah Ruh ini, Iya Ruh Iya Allah, Satu. Taukhid itu namanya, Satu kesatuan dalam Kesejatian.

Seluruh Para Wali, Tersenyum semuanya, Mendengar apa yang diucapan Syeh Siti Jenar, Kokoh tidak bisa digoyahkan, Sangat berani, Membuka segala rahasia, Dengan tidak segan-segan lagi.

Menyibak Kesejatian Diri-Nya, Keberaniannya membikin masalah, Menjungkir balikkan syara’ (Hukum), Kata-katanya sangat berani, Dicegah oleh semua Wali, Namun seolah-olah kurang juga yang mencegah beliau.

Lantas hendak bubar, Para Wali semua, Untuk pulang ketempat tinggalnya masing-masing, Dan Sunan Giri Gajah, Yang berhak memutuskan hukuman, Bagi yang menjungkir balikkan syara’, Mumpung belum terlalu lama.

Jeng Sunan Giri menyanggupi, Akan menjatuhkan hukuman mati bagi Syeh Siti Jenar, Apabila sudah sampai pada waktunya, Pelantikan Sultan Demak, Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Majalengka ( Majapahit), Seluruh Wali menyetujui, Lantas pulang kekediaman masing-masing.

Minggu, 09 Oktober 2022

Sudut Pandang Pikukuh Sunda Tentang Proses Penciptaan & Dinamikanya

BAGIAN 1-

Sudut Pandang 
Pikukuh Sunda 
Tentang Proses Penciptaan & Dinamikanya



 Sampurasun

1. 
Pitutur para sepuh tentang proses terjadinya Sunda & Planet Bumi 



Awalnya 
Yang Maha Kuasa membentuk 
“Jagat Suwung”, 
yaitu 
‘sesuatu’ 
yang gelap, kosong, hening. 
Tidak ada barat, timur, utara, selatan, singkatnya… 
sebuah keadaan yang sulit terciptakan 
(cipta = pikir).

Tahap selanjutnya 
Yang Maha Kuasa menghadirkan suatu suara seperti 
“Tawon Laksaketi”
(berjuta-juta tawon) 
yang berbunyi “Huuuung…”. 

Dunia ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Suara Kosmik”.

Dari pusat suara munculah jentik-jentik sinar cemerlang 
“Hyang Putih / Ingyang Putih”
sebesar ‘sayap nyamuk’. 

Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern model ini disebut “molekul cahaya”. 

Semakin lama semakin menggumpal, membesar dan terus membesar.

Gumpalan, kumpulan molekul (atom ?) itu semakin lama semakin besar dan memadat maka jadilah 
“Sang Hyang Tunggal”, sebuah sumber cahaya gemilang yang agung dan suci serta tidak ada bandingnya.

Atas kehendaknya 
(Yang Maha Kuasa ?), Sang Hyang Tunggal memecah dirinya menjadi beberapa bagian dan menyebar 
di Jagat Suwung. 

Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Big Bang”, istilah itu dipelopori oleh Stephen Hawking.

Pecahan dari 
Sang Hyang Tunggal menyebar mengisi 
Jagat Suwung dan kembali menjadi jentik-jentik sinar 
yang berpencar. 

Saat ini 
kita mengenalnya dalam tiga (3) kelompok : Kartika(Bintang), 
Surya (Matahari), Chandra (Bulan) 
atau sering disebut sebagai susunan 
“Tata Surya”.

Salah satu dari milyaran tata surya pengisi 
Jagat Suwung 
adalah 
Matahari 
yang dikelilingi oleh planet-planet, dan planet-planet tersebut pun hasil pemisahan (ledakan) dari 
Matahari itu sendiri.

Maka, 
Matahari kita itu merupakan putra dari Sang Hyang Tunggal 
dan atau cucu dari Hyang Putih.

Matahari dikenal sebagai Sang Hyang Manon atau lebih populer disebut Batara Guru 
yang artinya adalah “yang senantiasa memberikan / menyampaikan penerang sebagai 
cahaya kehidupan (*gerak)”.

2. Arti Kata “Sunda”.

Matahari 
adalah “api sejati yang sangat besar” dan dituliskan dalam susunan kata 
SU(sejati) – 
NA (api / geni / agni) – DA (agung / besar /  
       gede) 
atau sering disebut sebagai
SUNDA.

Kita dapat menemukan istilah “Sunda” 
dalam beberapa penamaan seperti; 

Gunung Sunda (+Purba), Selat Sunda, 
Sunda-Ra, 
Kepulauan Sunda Besar – Sunda Kecil, dst. 

Bahkan seorang 
filsuf Yunani, Plato menyebutnya sebagai Sunda-Lan atau Ata-Lan atau boleh jadi artinya sama dengan Atlan (Atlantis).

Maka, 
Sunda sama sekali bukan nama sebuah ras atau suku pun etnis, apalagi hanya berupa batas wilayah sebesar Jawa-Barat. 
Sebab, 
Sunda merupakan tatanan besar yang berlandas kepada nilai-nilai filosofis “ke-Matahari-an”.

Betul bahwa pusat “Sunda” itu ada 
di Jawa Barat 
hal tersebut karena keberadaan 
Gunung Sunda Purba / Gunung Matahari / Gunung Batara Guru / Gunung Cahaya, 
dalam bahasa Yunani kuno disebut sebagai Gunung Olympia (Olympus = Cahaya) dikenal sebagai 
tempat tinggal 
para dewa. 

Hal ini pula yang menyebabkan mayoritas wilayah di Jawa-Barat menggunakan istilah 
“Ci” artinya “Cahaya”. 

Istilah ”Ci” tentu tidak sama dengan “Cai”  
yang berarti 
kemilau yang dipantulkan dari permukaan tirta / banyu / apah / air.

3. Sang Guru Hyang & Da 
    Hyang Sumbi

Dari cerita 
Wayang Purwa dikisahkan bahwa
Batara Guru 
jatuh cinta kepada 
Batari Uma / Dewi Uma.

Batari Uma 
berobah menjadi 
Batari Durga & 
dikawini oleh 
Batara Kala.

Arti kata “Guru” adalah yang selalu bersinar / senantiasa menerangi / pemberi kebenaran. 

Sedangkan arti kata “Batara” ialah 
“yang menyampaikan (yang menyinari) 
gerak kehidupan”.

Dalam pikukuh Sunda keluhuran budi-pekerti & dharma bakti agung pada diri seseorang menyebabkan ia layak (disetarakan) sebagai sosok “Guru”. 

Adapun derajat yang tertinggi dan paling sepuh disebut 
Sang Guru Hyang 
(Sang Guriang) 
yang artinya adalah 
Saka Guru
(Guru yang Tertinggi / Puncak tertinggi dari segala Guru / Cahaya) dan itu sama dengan
Matahari 

disisi lain hal tersebut maknanya sama dengan “Sunda”.

Batari Uma 
(Ma / Umi / Ambu / Ibu / Umbi / Bumi) sesungguhnya merupakan pecahan dari Matahari 
(Batara Guru / Sunda), didapat dari hasil ledakan besar yang kemudian bergerak mengeliling Matahari menjadi bagian dari Tata-Surya 
(Solar System).

Batari Uma atau 
Dewi Uma 
pada mulanya 
bersinar terang seperti halnya Batara Guru, namun lama-kelamaan sinarnya semakin padam dan permukaannya berobah menjadi tanah yang bergelombang. 

Tentu saja hal tersebut akibat ia menjauh dari Matahari (Batara Guru), 

kejadian itu diumpamakan sebagai “kutukan” Batara Guru kepada Dewi Uma 
yang kemudian berobah nama menjadi 
Batari Durga 
yang buruk rupa.

Setelah Dewi Uma kehilangan cahaya dan menjadi Batari Durga maka ia dikawini oleh Batara Kala, 
yang artinya ialah terkena hukum “waktu” maka 
terjadilah peristiwa waktu & ruang 
di planet Bumi.

Waktu (Kala) 
ditentukan oleh Matahari

Ruang (Pa) 
ditentukan oleh Bumi

Namun demikan, walaupun Dewi Uma telah menjadi 
Batari Durga 
ia masih mengandung putra dari Batara Guru dan saat ini kita menyebutnya sebagai “Magma” 
(api yang ada di perut Bumi) 
yang kelak melahirkan berbagai jenis batuan serta unsur-unsur lainnya sebagai penunjang kehidupan 
para penduduk Bumi.

Peristiwa tersebut dalam Pikukuh Sunda diabadikan dengan sebutan Bua-Aci (‘buah’-aci) 
atau lebih dikenal sebagai 
Sang Hyang Pohaci, 
yang senantiasa memberikan kesuburan (*kehidupan)
kepermukaan tanah. 

Dari sebutan atau ungkapan tersebut
pada saat sekarang membuat kita mengenal istilah “buah” 
(*phala / pala / pahala) serta istilah “Bua-na” yang kelak berobah menjadi Banua (Benua).

 

Perobahan dari 
Dewi Uma menjadi 
Batari Durga 
(*karena tertutup tanah) menyebabkan perut Bumi harus dapat
mengeluarkan 
panas Bumi (magma), maka 
lahirlah sebuah “cerobong raksasa” 
yang disebut sebagai Gunung Sunda 
(Gn. Batara Guru).

Pada dasarnya 
Dayang Sumbi itu 
berasal dari kata Da-Hyang – Su-Umbi , yang artinya :
Da = Agung / Besar
Hyang = Moyang / Eyang / Biyang / Leluhur / Buyut.
Su = Sejati
Umbi = Ambu / Ibu

Dayang Sumbi mengandung makna: Leluhur Agung Ibu Sejati atau setara dengan sebutan 
Buana / Ibu Pertiwi / Bumi / Earth.

Maka jika disimpulkan, kisah / legenda 
Sang Guru Hyang & 
Da Hyang Su Umbi 
itu lebih kurang memaparkan tentang kejadian / hubungan antara 
Matahari & Bumi, keberadaan   
“Waktu & Ruang” 
(Kala & Pa) 
dan khususnya berceritera tentang 
“awal kehidupan manusia di muka Bumi” 

yang intinya menyatakan bahwa 
“waktu & ruang merupakan hukum kehidupan”.

 

4. Situmang = Trisula 
    Naga-Ra

 

Dalam kisah 
Sang Guru Hyang diceriterakan bahwa Dayang Sumbi 
pada akhirnya kawin (bersanding) dengan Situmang, 
yaitu seekor anjing 
yang membantu membawakan gulungan benang yang terjatuh ketika Dayang Sumbi sedang menenun. 

Perkawinan mereka menghasilkan sosok Sangkuriang 
(Sang Guru Hyang).

‘Sangkuriang’ 
atau sebut saja 
Sang Guru Hyang 
yang ke II ini 
maknanya adalah kelahiran 
Negeri Matahari (Dirgantara) 
sebagai pusat Keratuan / Keraton Dunia, 
atau 
kelahiran pola ketata-negaraan 
yang pertama di dunia yang ditandai oleh Gunung Sunda Purba atau 
Gn. Matahari / 
Gn. Batara Guru. 

Saat ini tersisa sebagai Gn. Tingkeban Pa-Ra-Hu, dan 
sekarang kita menyebutnya sebagai Gn. Tangkuban Parahu.

Setelah keberadaan wilayah beserta penduduknya, 
bentuk kemasyarakatan diawali dengan adanya
Tata / Aturan / Hukum yang berupa 
Tri Su La Naga-Ra 
(Tiga Kesejatian Hukum pada sebuahNegara), atau dalam 
silib & siloka SITUMANG yaitu terdiri dari :

– Rasi / Datu berkedudukan sebagai pengelola kebajikan, wilayahnya disebut “Karesian / Kadatuan atau Kedaton”.

– Ratu 
berkedudukan sebagai pengelola kebijakan, wilayahnya disebut Keratuan / Keraton.

– Rama 
berkedudukan sebagai pembentuk kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut“karamat” atau sering disebut sebagai “kabuyutan” atau wilayah para leluhur / luhur / gunung (*?) = 
(tanah suci).

– Hyang 
merupakan sumber ajaran kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut Pa-Ra-Hyang.

 

 

Adapun sosok binatang “anjing” 
merupakan metafora atau perumpamaan dari watak “kesetiaan”. 

Simbolisasi tersebut tentu sangat sesuai dengan kenyataan yang berlaku dan layak dipergunakan sebagai pola tanda seperti halnya Sang Hyang Gana (Ganesha) 
yang mempergunakan siloka “gajah”, 
atau pun 
konsep pemerintahan yang dilambangkan dalam bentuk “harimau” 
(mang / hitam – 
ang/merah  – 
ung/putih = maung).

 

5. Awal Kenegaraan 
    Dunia 
“Layang Saloka Domas & Saloka Nagara”

Secara logika tentu 
awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, 
yaitu : 
kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, 
aparatur pemerintahan, serta pengakuan. 

Tanpa salah-satunya terpenuhi 
maka tidak layak 
disebut sebagai 
sebuah negara.

 

Maka demikian pula dengan 
kelahiran pemerintahan di tatar Sunda 
yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) 
diawali dengan adanya sebuah Keratuan 
yang bernama
“Salokanagara / Salakanagara”. 

Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” 
yang menjadi sebuah peraturan / hukum. 

Itu sebabnya 
masyarakat kita mengenal istilah 
“Layang Saloka Domas” yang artinya :

–  La = Hukum

–  Hyang = Leluhur

–  Sa = Esa / Tunggal / 
    Satu

– Loka = Tempat/ 
                 Wilayah

– Domas = Tidak 
                     Terhingga / 
                      invinity / 

Arti keseluruhannya ialah :  
Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.

 

Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan 
wilayah kekuasaan hukum 
yang sangat besar.

Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :

– Sa = Esa / Tunggal / 
            Satu

– Loka = Tempat / 
                 Wilayah

– Naga = *…lambang 
                 penguasa darat 
                 laut (samudra)

– Ra = Matahari

Saloka Naga-Ra 
berarti : 
Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.

 

6. Aki ‘Tirem’

Menyentuh jaman 
Saloka Nagara 
tentu tidak terlepas dari keberadaan Aki Tirem yang mempunyai makna sebagai berikut;

– Aki = Leluhur / 
             Kokolot / 
             Sesepuh / 
             Tohaan / Tuhaan 
             (‘Tuhan’).

– ‘Tirem’ = (…………

beberapa kemungkinan arti) :

Tarum / Taru-Ma (Kalpataru / pohon hayat / kehidupan).

Ti-Rum / Rumuhun

Ti-Ram / Rama

Jika “Tirem” itu 
adalah kata lain dari “Taru-Ma” 
(*taru = tree / pohon, dan ma = uma / bumi / ambu / ibu) 
maka istilah 
“Aki Tirem / Taruma” 
bisa mengandung makna sebagai 
“Pohon keluarga 
para leluhur Bumi”.

 

Tabe Pun, Rahayu Sagung Dumadi

Sabtu, 08 Oktober 2022

Jati Buhun

[8/10 00.37] Aing: Jati Buhun 
(ᮏᮒᮤ ᮘᮥᮠᮥᮔ᮪/جَتِ بُحُنْ) mangrupa ajaran titinggal ti Pamuunan (karuhun Buhun), 
nu tadina ti ajaran Buhun nu ngajati, nu geus aya jauh seméméh urang Sunda diaranan Sunda, jauh saméméh bangsa India ngaradegkeun karatuan di taneuh Pamuunan. 
Malah mah jauh saméméh Karatuan (karaton/kraton) Salakanagara salaku karajaan nu pang mimitina aya di taneuh Pamuunan tur di Nusantara, 
ngadeg di-adegeun 
ku bangsa India nu ngaranna Dewawarman


Silangrua nyaéta tinurup Jati Buhun nu mangrupa gambar Ajaran Jati Buhun di ajarkeun turun-tumurun tinu Pikukuh-pikukuh nu eusina téh mangrupa papatah jeung pépéling.


Situs gunung Padang 
di kabupaten Cianjur provinsi Jawa Barat nyaéta situs megalitikum titingalan Pamuunan Buhun nu pang geudéna di Asia Wétan ngidul katut pang kolotna di dunya

Punggelan Sajarah Jati Buhun mimitina mah ajaran bangsa urang téh euweuh ngarana, ku lantaran sakabéhna ogé ngagem kanu ajaran nu sarua, nyaéta ageman ti Pamuunanna sorangan, lain ti bangsa séjén. 
Tapi ku lantaran dararatangna bangsa deungeun ti India, nu ngaradegeun karatuan, bari jeung mararawa agemana sorangan, nyaéta 
ageman Hindu-Budha, 
ku lantaran kitu jadi aya ageman séjén di taneuh Pamuunan.

Tapi sanajan kitu, rahayatna nu teu pati paduli mah angger kénéh ngagem kana ageman ti pamuunanna sorangan. Sedengkeun rahayat nu jadi pangaula karatuan mah, saeutik lobana agemanna téh jadi ngilu kapangaruhan ku agemam karatuan nyaéta Hindu-Budha. 
Ieu téh nu mimiti ngajadikeun ayana 
tilu ageman, nyaéta ageman rahayat ti pamuunanna sorangan, ageman rahayat nu mangaula ka karatuan, jeung ageman nu ngawasa di karatuan.

Ageman rahayat ti Pamuunanna sorangan éta nu ngajadikeun ayana ajaran Jati Buhun ayeuna. 
Nu ajaranna euweuh patula patalina jeung ajaran karajaan naon waé.

Ageman rahayat ti Pamuunanna sorangan, turun-timurun diajarkeun ka katurunan katurunanna nu tungtungna nepi ka 
Puun Awat.

Aki Unté 
nyaéta incuna 
Puun Awat, 
ku lantaran aki unté kapapaténan ku indungna di umurna nu leutik kénéh, reujeung Puun Awat ogé ngan hirup duaan jeung pamajikannana dilahan tatanén nu notoang, 
ku lantaran kitu, aki Unté basa keur leutikna tungtungna milu cicing di Puun Awat, 

Puun Awat téh 
nyaéta mangrupa 
aki ti indung aki Unté.

Salila Aki Unté cicing di Puun Awat, 
Puun Awat ngajarkeun ka Aki Unté ajaran Ageman rahayat ti Pamuunanna sorangan, 
nyaéta ageman Buhun nu ngajati atawa Buhun nu murni kénéh.

Ku Puhu Nono éta ajaran Buhun nu dianggap murni téh dijatikeun atawa di murnikeun deui, nyaéta 
diberesihan tinu sagala rupa pangaruh-pangaruh agama-agama deungeun jeung pangaruh-pangaruh ajaran séjénna, 
tur disaluyukeun nyaéta disaluyukeun jeung kamajuan jaman supaya ulah kaséséréd ku caah modérenisasi. 
Da cenah modérenisasi jeung teknologi mah lain ajaran idéologi agama, jadi éta mah ngan saukur cangkangna hungkul 
ari eusina mah nya angger kénéh nyaéta ajaran Jati Buhun, 
nu nepi kaayeuna éta ajaranna téh disebutna ajaran Jati Buhun.

Pangulikan kahirupan

Ajaran Jati Buhun mah percaya yén di jeroning diri jelema hirup téh 
aya tilu bagéan diri 
teu leuwih jeung 
teu kurang, 
tilu bagéanna téh nyaéta:

tilu bagéan 
di jeroning diri nu hirup (bisa ngajadi tur gumerak)

Waruga 
nu ngajadikeun jelema bisa aya kalawan nyaan.

Sukma 
nu ngahiub dina uteuk 
nu ngajadikeun jelema jadi hirup.

Nyawa 
nu ngahiub dina jantung nu ngajadikeun jelema ngajadi.

Jéjér Béas : 
Pikukuh Kahirupan

Euceuk Puhu Nono (pamuka ageman Jati Buhun) 
ajaran Jati Buhun téh mangrupa 
bahan élmu pangaweruh titinggalan karuhun Buhun 
nu diguruan ku kanyaanan tur pangalaman mangrébu-rébu taun, jeung mun daek medarkeun kanu pamikiran moderen mah bakal ngamunculkeun élmu pangaweruh 
nu bakal muka bongbolongan sagala rupa. 
Salah sahiji contona metakeun asalna jadi jelema minurut ajaran Jati Buhun di handap ieu:

Sel mani 
nyaéta waruga nu ngabogaan sukma 
jadi sel mani bisa kokoséhan maké buntutna, 
ari sel endog 
nyaéta waruga nu ngabogaan nyawa 
jadi sanajan sel endog teu bisa gerak ogé tapi bisa teu buruk nepikeun ka sababaraha waktu. 

Mangka hahijina 
sel mani nu mawa waruga jeung sukma, tur sel endog 
nu mawa waruga jeung nyawa, 
bisa ngahijikeun waruga, Sukma, jeung nyawa 
dinu hiji jirim, 
jadi manjing jang ngajadi jeung ngawentuk kahirupan anyar.

Sedengkeun kloning mah tangtu teu make sel mani, 
jadi perlu bantuan 
kejut listrik jang ngahudangkeun Sukma.

kanyaanan tetempoan moderen ngabahas asal jelema jadi (reproduksi) diténjo tinu 
ajaran Jati Buhun

Hadé, Goté, Jeung Hapa ngageugeuh di jeroning diri jalma

ceuk ajaran Jati Buhun mah, hadé jeung goté katut hapa (teu hadé tur teu goté) kalakuanna téh geus aya di jeroning diri urang sorangan, 
tinggal urangna apa arék ngalampahkeun kalakuan hadé, atawa arék ngalampahkeun kalakuan goté, atawa arék ngalampahkeun kalakuan hapa.

Ku ayana Pamaheg 
nu agem di jeroning diri jelema, 
mangka sakuduna mah jelema téh 
bisa ngabédakeum 
mana kalakuan nu hadé jeung mana kalakuan nu goté, 
ku ayana pamaheg ngajadikeun jelema 
jadi nyaho 
mana nu disebut kalakuan hadé jeung mana ni disebut kalakuan goté.

Ku kituna, 
mun hayang jadi jalma nu hadé kalakuana téh, teu kudu diajar, 
lantaran diajar mah lain supaya jadi hadé, 
tapi supaya jadi pinter. 

Jelema nu hadé kalakuannana can tangtu pinter jeung 
jelema nu pinter gé 
can tangtu kalakuanna hadé. 
ku lantaran hadé jeung pinter mah 
mangrupa 
dua pangabisa nu béda. 

ku kituna supaya jadi hadé kalakuannana nu dibutuhkeunna téh 
lain papagah 
tapi pépéling. 

Mangka ku kituna Pikukuh Jati Buhun mah eusina téh 
lain ngan saukur Papatah hungkul tapi aya ogé Pépéling nu ngélingkeun, nu ngajadikeun 
ayana kasaimbangan 
di jeroning ajaranna téh.

Nu ngabaruhun gé nyaladar yén 
kapinteran téh 
minangka nu pang utamana, 
tapi kahadéan 
jauh lewih utama deui. 


Da kapinteran gé 
mun bari jeung euweuh kahadéanna mah 
bisa ngagiring kanu kajahatan 
nu bisa ngarugikeun batur, 
sedengkeun 
kahadéan bari jeung euweuh kepinteranna ogé nya sahenteuna 
teu mantak ngagiring kanu kajahatan, 
jadi moal ngarugikeun batur.

Mun hayang pinter 
nya kudu loba diajar, 
tapi 
mun hayang kalakuanna hadé mah 
nya kudu loba éling, 
mun hayang éling 
nya tinggal ngagunakeun haté 
nu pinuh ku pangéling-ngéling 
di jeroning Pamaheg.

ku kituna, 
supaya bisa ngabédakeun 
kalakuan hadé jeung kalakuan goté, 
teu kudu muka bacaan nanaon jeung 
teu kudu ngadéngékeun omongan sasaha, 
tapi 
cukup ku ngagunakeun haté nu anteb jeung kaéling kana diri 
di jeroning Pamaheg, mangka ku cara kitu bakal jadi ngarti jeung éling yén kalakuanna téh hadé atawa goté. 

Sarua waé jeung 
mun hayang ngabédakeun patempoan nu wararaas atawa patempoan nu sareukseuk, 
mangka cukup 
ku ngagunakeun panon jang ninggali jeung nganyahokeun. 
Atawa 
hayang ngabédakeun sora halimpu jeung 
sora rébék, 
mangka cukup ku ngagunakeun ceuli jang ngadéngékeun jeung jang ngabédakeun, 
teu kudu bari jeung muka bacaan nanaon atawa ngadéngékeun omongan sasaha. 

Mangka ku kituna 
tugas jalma 
nu pang utama dina ajaran Jati Buhun mah nyaéta 
éling kanu aturan 
nu aya di jeroning dirina, ku carana kitu 
bakal bisa mawa diri 
nepi ka jadi jelema nu sabener-benerna jelema.

Sabenerna mah 
unggal jelema gé 
mimiti ngalakukeun kalakuan goté téh, 
tangtu bakal ngarasa salah tinu kagotéannana sorangan, 
éta hartina 
ceuk ajaran Jati Buhun mah nyaéta 
Pamaheg jeung haté éta jalma téh 
bisa kénéh jalan, 
tapi ku lantaran éta jalma téh osok ngalakukeun kalakuan goté waé, mangka Pamaheg jeung haténa éta jalma téh 
jadi ruksak 
nu ngajadikeun teu bisa jalan deui, 
lantaran osok nolak 
kana kahadéan waé jeung tara digunakeun haté. 
Mantakna 
uteukna jadi ngabenerkeun kanu sakabéh kalakuan goténa. 

Supaya éta jalma téh bisa éling deui kanu kasalahanna, 
mangka éta jalma téh perlu diélingkeun 
laku lampahna nepi ka Pamaheg jeung haténa bisa jalan deui.

Pépéling Laku Lampah

Dina ajaran Jati Buhun, aturan Gusti 
nu ngersakeun 
nu saenya-enyana Gusti, geus aya dina jeroning diri jelema éta sorangan, tinggal éta jelemana téh ngarti, 
éling, jeung 
narima 
kana éta aturan 
ti Gusti Hyang Agung. 

Jeung kacida dorakana lamun percaya yén 
aya aturan ti Gusti nu kawasa 
nu ditalatahkeun 
ka jelema séjénna. 
ku lantaran éta téh 
geus nganggap Gusti 
nu kawasa téh 
geuning teu walakaya jadi ngabutuhkeun bantuan jelema jang ngatur jelema deui, 
da pédah ajaran Jati Buhun mah 
percaya yén 
Sang Hyang Agung Gusti nu saenya-enyana Gusti téh sanggup ngatur 
nu araya, nu jaradi, jeung nu harirup, 
bari jeung teu butuh bantuan sasaha jeung teu kudu nyampeurkeun atawa talatah ka jelema jang jelema séjénna, 
ku lantaran 
Gusti nu kawasa nu saenya-enyana Gusti ngabogaan carana sorangan jang ngatur segala-galana, bari jeung teu kudu niru kanu cara jelema.

Aya 3 pépéling diri 
di jeroning 
ajaran Jati Buhun 
nyaéta Ngaji 

Ngaji Deka atawa 
Ngaji Rasa jeung 
Ngaji Kawila.

#
Ngaji Diri 
nepikeun ka urang téh ngarti, 
éling, jeung moal ngalakukeun nu teu pantes dilakukeun 
ku diri urang, tur sabisana nananyakeun kanu kesalahan diri urang sorangan saméméh nyalahkeun batur.

Ngaji Deka nu aya dina diri urang sorangan, 
nepi ka urang jadi 
ngarti jeung éling kumaha mun urang dirugikeun ku batur, siga dinyenyeri, ditipu, dipaok, diwiwirang, jeung dirugikeun séjéna, nepikeun ka urang téh embung ngarugikeun batur jeung arék ngalakukeun batur siga urang hayang dilakukeun ku batur.

Ngaji Kawila 
nepikeun ka urang téh embung ngan saukur mentingkeun diri urang sorangan, 
tapi ogé paduli 
kanu kapentingan batur jeung kapentingan balaréa.

Jéjér Béas : 
Pikukuh Laku Lampah

Pépéling di luhur ngelingan jelema 
supaya daék wawuh kana aturan nu aya dina dirina sorangan 
salaku jelema, 
lantaran 
jelema dijurukeun téh supaya jadi jelema 
nu laku lampahna 
siga laku lampah jelema, 

kitu ogé beurit 
dijurukeun jang jadi berit reujeung laku lampah na salaku berit nu rampus jeung jotok, 
manuk jadi manuk jeung paheut kanu jodona, maung jadi maung 
nu ngabogaan sima jeung telenges, jeung saterusna, 

éta téh 
aturan Gusti 
nu ngersakeun 
nu saenya-enyana Gusti.

Ajaran Jati Buhun ngajadi tinu kanyaanan jeung pangalaman karuhun Buhun 
salila mangrébu-rébu taun, nepi ka 
ceuk nu ngagemna mah ajaran Jati Buhun téh bakal saluyu jeung kanyaanan tur bakal bisa dipaké nepika iraha waé ogé.
[8/10 00.39] Aing: Nusantara nyaéta 
hiji kecap majemuk nu dicokot tina basa 
Jawa Kuna 
nusa (pulo) jeung 
antara (séjén).
[8/10 00.54] Aing: Pamaheg 
nyaéta dorongan nu kaluar ti jeroning diri, 
nu ngajadikeun 
ayana jati diri 
(watak jeung dorongan laku lampah bawaan), 

dekan (deka-an) 
nyaéta batin pangrarasa di jeroning haté, 

gawilan (mang-kawila-an) 
nyaéta dorongan kahayang nalang jeung nulung, 

saterusna nyaéta kahayang, 
ari kahayang téh 
nyaéta pangabutuh atawa nafsu.

Rék daék teu daék ogé pamaheg mah 
bakal tetep aya 
di jeroning diri jelema 
nu hirup, 
mangrupa carana Gusti Nu Ngersakeun 
nu ngawasa ka sakabéh kaayaan, 
kajadian, jeung kahirupan, 

bari jeung Gusti mah 
teu ngabutuhkeun bantuan nanaon atawa bantuan sasaha. 

ku kituna 
ceuk ajaran Jati Buhun mah 
aturan ti Gusti 
nu saenyana téh 
teu kudu diajarkeun 
ti luar diri urang, 
da manuk ogé 
bisa nyayang, nyingleumleum, jeung ngurus anakna 
teu kudu diajarkeun 
ti luar dirina, 
tapi cukup ku éling 
kana dirina sorangan.

Pamaheg téh 
mangrupa kecap Buhun titinggalan ti pamuunan (karuhun buhun) 
nu dipaké kénéh 
nepi ka ayeuna ku ajaran Ajaran Jati Buhun.

Pamaheg Nu Aya 
Dina Diri Jelema

Pamaheg nu aya 
dina diri jelema 
meni kacida ahéngna tur ngabogaan mangrupa-rupa aturan 
ti Gusti nu saenyana-enyana Gusti jang jelema, 
jeung 
nu aya di sasatoan mah teu saahéng 
siga nu dipikaboga 
ku jelema. 

Bagéan na téh nyaéta:

Jati diri
mangrupa peran nu ti Gusti nu kawasa 
ajang jelema. 

Nepikeun ka jelema ngabogaan watak jeung sifat nu bararéda. 

Sedengkeun sasatoan mah, 
dina hiji jinis sasatoan biasana jatidirina ampir sarageman, jeung 
bakal béda mun jinis sasatoanna ogé béda.

Deka atawa rasa 
di jeroning diri nu ahéng, nepikeun ka jelema 
bisa ngarasakeun 
kaéra jeung ka wiwirang nepikeun ka hayang nutupan beungeut, 
bisa ngarasakeun nalangsa nepikeun ka ceurik inghak-ingakan, jeung 
bisa ngarasakeun bungah jeung kagugu nepikeun ka seuri babarakatakan, jeung salianna deui, 
jeung éta téh 
henteu dipikaboga 
ku sasatoan, 
sanajan aya ogé deka 
nu dipikaboga ku jelema katut ku sasatoan.

Kawila atawa paduli ka jelema séjénna, 
di mana jelema sabenerna mah 
boga pangawilaan nulung jeung nalang, sanajan aya ogé sasatoan nu osok ngabogaan pangawilaan.

Ari sésana mah 
nyaéta 
Pamaheg mangrupa kahayang nu sarua siga Pamaheg nu dipikaboga ku sasatoan

Kumatak kitu 
jelema dijurukeun téh tah jadi jelema nu éling 
kana dirina sorangan, ngabogaan pandekan, jeung paduli ka sasama, tapi 
pengaruh goté 
nu daratang ti luareun dirina 
geus ngajadikeun 
éta jelema 
jadi teu éling 
kana dirina sorangan, nepi ka éta jelema téh jadi leuwih bahaya 
ti batan buaya, 
leuwih jahat ti batan ajag, jeung 
leuwih galak ti batan singa. 

ku kituna 
pépéling diri téh 
kacida pentingna, 
supaya jelema balik deui ka laku lampahna 
salaku jelema.

Pamaheg téh 
mun ceuk Malayuna mah meureunan "naluri", 
harti ti kecap naluri ampir sarua jeung pamaheg 
di mana naluri 
ceuk kamus besar bahasa Indonesia 
nyaéta 
dorongan hati atau 
nafsu yang dibawa 
sejak lahir; 

pembawaan alami 
yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu.
[8/10 13.42] Aing: Pépéling Bati Lampah

Jati Buhun teu apal jeung nu ngaranna reinkarnasi lantaran 
dina ajaran Jati Buhun mah sakabéh nu dijurukeun téh 
nyaéta 
jirim anyar nu asalna 
ti kolotna sorangan. 
Tilu bagéan 
di jeroning diri jelema hirup nyaéta 

Waruga nu ngajadikeun jelema jadi aya, 

Nyawa nu ngajadikeun jelema jadi ngajadi, 

Sukma nu ngajadikeun jelema jadi hirup, 


éta katiluna téh bener-bener asalna ti indung bapana sorangan jeung lain ti reinkarnasi atawa ti naon waé. 

Mangka ku kitu, 
Jati Buhun mah 
teu wawuh jeung nu ngaranna karma, 
tapi 
wawuh ari cukang lantaran mah 
nu asalna ti bati lampah, katut wawuh kanu pangaruh ti mujur jeung apes mah 
nu mangrupa bagéan 
ti jalan hirup.

Bati Lampah 
aya 3 bagéan nyaéta Sugema, 
Mamala, 
Dodoja.
[8/10 13.49] Aing: Sugema 
nyaéta kaayaan 
nu pibungaheun, 
sugema bisa datang 
mun urang bisa ngabungahkeun hati jalma séjénna, 
sanajan urang barang béré nu kacida lobana ogé mun jelema 
nu dibéréna haténa 
teu bungaheun mah, 
nu méré na ogé moal meunang sugema nanaon, 
tapi mun nu méréna sanajan ngan saeutik ogé hég wéh nu dibéréna haténa bungaheun, 
éta nu méréna isukan pagéto gé bakal meunang sugema 
nu lebih gedé ti nu geus dibérékeun. 
Mingkin gedé kabungah jalma nu dibéré, 
mingkin gedé ogé sugema nu bakal katarima ku nu méréna.

Mamala 
nyaéta kaayaan nu teu dipiharep. 
Mamala bakal datang mun urang ngarugikeun nepi ka nganyerikeun hate éta jalma nu geus dirugikeun, 
mingkin nyeri haténa 
éta jalma nu dirugikeun mingkin gedé ogé Mamala nu bakal ditarima ku jalma 
nu geus ngarugikeunnana, sagedé nanahaon ogé jalma nu ngarugikeun 
ka jalema séjénna salila nu dirugikeunna teu ngarasa dirugikeun mah, mamalana ogé moal datang, 
tapi mun jelema nu ngarasa dirugikeun 
nyeri haténa 
mangka éta mamala bakal nepi ka éta jelema nu geus ngarugikeun, malah mah 
mun urang manggihan pangaboga batur najan teu pati aya pangajina ogé (siga duit recéh, atawa banda nu murah) di jajalaneun, hég wéh dicokot terus jelema nu kaleungitannana kuciwa haténa, 
mangka éta nu nyokotna téh bakal meunang mamala nu jauh lewih mahal tibatan pangaboga batur 
nu geus dicokot 
di jajalaneun téa, mangka leuwih hadé mun manggih pangaboga batur téh antepkeun wéh, 
lantaran saha nu nyaho nu bogana rék balik deui néangan.

Dodoja, 
jelema nu meunang dodoja bakal didoja kapancegan haténa, 
mun sanggup ngaliwatan dodoja ku cara hadé bakal meunang sugema, tapi 
mun teu sanggup ngaliwatan dodoja 
ku cara nu hadé bakal meunang mamala. 
Mun jelema keur ngabogaan pangabutuh nu kacida butuhna 
tuluy wéh aya jalanna 
ku jalan goté 
éta hartina jalma téh keur meunang dodoja, mun sanggup ngaliwatan éta dodoja kucara hadé atawa 
teu ngalampahkeun kalakuan goté lantaran kagoda ku pangabutuh, mangka iraha-iraha ogé éta jalma téh bakal meunang sugema, 
tapi 
lamun teu sanggup ngaliwatan dodoja kucara hadé atawa ngalampahkeun kalakuan goté pédah kagoda ku pangabutuh, mangka iraha-iraha ogé éta jalma téh 
bakal meunang mamala.

Mun urang nyokot naon waé sakur pangaboga batur karasana mah 
siga nu keur nyokotan sugema, 
padahal mah 
naon nu ku urang dicokotan téh 
teu nyaho mah 
ngan saukur mamala, 

mingkin loba 
nu dicokotanna 
mingkin loba ogé mamala nu katarimana, ku kituna 
jelema nu geus éling 
ku Pikukuh Bati Lampah mah 
moal sok cukat-cokot pangaboga batur.
[8/10 13.50] Aing: Jéjér Béas : 
Pikukuh Bati Lampah
[8/10 13.51] Aing: Salian ti éta 
aya ogé kaapes jeung kamujuran 
salaku bagéan 
ti jalan hirup, 
da dina ajaran Jati Buhun mah, 
hirup téh siga cai 
nu palid jeung walungan siga jalan hirup 
nu daék teu daék 
bakal diliwatan.
[8/10 13.53] Aing: ku kituna, 
dina ajaran Jati Buhun mah 
katempo bédana 

sugema nu mangrupa kanyaah, 

mamala nu mangrupa pangwarah, jeung 

dodoja nu mangrupa 
tah milih. 

Jadi euweuh pangwarah nu disebut tah milih, atawa kanyaah nu disebut pangwarah.

Dinu ajaran Jati Buhun mah, 
lampah goté téh 
teu bisa dileungitkeun 
ti diri nu ngalakikeunna, tapi 
bisa diimbangan 
ku cara ngalampahkeun kahadéan 
nu jauh leuwih gedé 
ti batan kagotéan 
nu geus dipilampahna.
[8/10 13.56] Aing: Pangulikan Papatén

ku lantaran ajaran Buhun ieu téh 
geus aya jauh saméméh agama-agama ti daratan asup pulo-pulo Nusantara, 
mangka 
ajaran Jati Buhun 
nu mangrupa 
ajaran Buhun nu ngajati jeung dijatikeun 
teu wawuh jeung Reinkarnasi, 
Surga, 
Naraka, atawa 
Moksa,, 

tapi ieu ajaran téh 
nyaho kanu 
tilu kapapaténan.

3 jinis kapapaténan téh 
nyaéta: 
Paéh Kasarad, 
Paéh Kakungkung, jeung Paéh Sawilujengna
[8/10 13.58] Aing: Paéh Kasarad 
nyaéta 
paéh nu sukma (roh) 
jadi wadal siluman, 
ku kituna Paéh Kasarad ogé bisa disebut 
paéh dipergasa.

Paéh Kakungkung 
nyaéta paéh tapi sukmana kakurung 
di jero waruga (raga) jeung éta Sukmana bakal ilang bareng jeung ngaburukanna waruga, ku kituna 
Paéh Kakungkung 
bisa ogé disebut 
paéh ilang musnah.

Paéh Sawilujeungna nyaéta paéh nu sukmana leupas ti warugana 
dinu kaayaan bahara-bahari 
nuju ka wengku kahyangan nu dipercaya mangrupa wengku 
nu lana, 
ku kituna 
Paéh Sawilujeungna 
bisa ogé disebut 
paéh sukmana lana.
[8/10 13.59] Aing: Jéjér Béas : 
Pikukuh Papatén
[8/10 14.04] Aing: Paéh kasarad 
nempa ka jalma 
nu ngalakonan urusan jeung siluman, atawa jalma nu diwadalkeun 
ku jalma séjénna 
ka siluman ku kaapesna atawa bisa ogé 
ku datangna mamala. 

Jelema nu Paéh kasarad sukmana bakal dicokot ku siluman, 
jeung 

mun éta jalmana 
Paéh Kakungkung, mangka 
siluman bakal angger ngadudut éta sukma 
ti warugana, 
sanajan hasil nyaéta sukma téh 
jadi cecel bocel atawa rapuh.

Jelema nu 
Paéh Kakungkung 
bakal dialaman ku jalma nu osok nyieun kagotéan waé, 
nepi ka pikiranna 
jadi kotor jeung pamahegna jadi ruksak, pamaheg nu rusak éta 
nu bakal ngajadikeun jelema 
jadi Paéh Kakungkung.

Sedengkeun 
Paéh Sawilujeungna bakal dialaman 
ku jalma-jalma nu mujur, nu salila hirupna ngalampahkeun kahadéan, 
nepikeun ka pamikiran natéh tenang jeung reueus, 
ku lantaran henteu nyimpen laku lampah goté di jeroning dirina, jeung 
henteu ngabogaan kahayang jang ngalampahkeun kalakuan goté.

Sukma jelema téh 
nyaéta 
tinu sahab lunyi atawa gas nu gampang kaduruk. 

ku kituna 
di jeroning kepercayaan Jati Buhun mah 
waruga jelema nu geus paéh téh 
alusna mah dijauhkeun tinu seuneu, 
ku lantaran dipikapaur bisi sukmana 
aya teu jauh ti warugana ku kituna dipika paur bisi ilang kaduruk.
[8/10 14.11] Aing: Pangulikan Buhun 
Kanu Panunggalan Gusti

Dijeroning pangulikan panunggalan Gusti 
nu dipikaboga 
ku Jati Buhun, 
teu apal ayana batara-batari, 
dewa-dewi, atawa malaikat. 

ku kituna 
Gusti katut sagala kakawasaanna mah bener-bener ngadeg sorangan 
bari jeung 
teu ngabutuhkeun bantuan batara-batari, dewa-dewi atawa malaikat, atawa jelema, jeung saha waé ogé salian ti éta. 
Nepikeun ka Gusti 
dina ajaran Jati Buhun mah 
salaku pang Hyangna 
nu hiji-hijina 
nu teu ngabutuhkeun bantuan nanaon jeung teu ngabutuhkeun bantuan sasaha atawa disebut 
Sang Hyang Agung 
ku kaagungannana.

Dina panenjo ajaran 
Jati Buhun 
saimbangna jeung saluyuna banua 
(buana/alam) 
tur kahirupan ieu, 
di mana unggal diri 
nu hirup ngabogaan jeroan awak 
nu disambungkeun 
tinu hiji kanu séjénna 
ku urat-urat nu kacida ahéngna jeung ruwetna, jeung 
cara pancén jeroanna 
nu luar biasa. 
Salian ti kitu ngawentukna kasaimbangan hirup tutumbu silih hakan 
katut peran 
tur pancén hirupna sewang-sewangan 
nu pinuh ku kasaluyuan. Mangka 
kacida ajaibna jeung kacida luar biasana 
mun ku-euweuh ayana Gusti
nu ngersakeun, 
nu ngatur, jeung 
nu ngawanganna. 

ku kituna 
ceuk ajaran Jati Buhun mah 
Gusti nu saenyana-enyana 
Gusti téh 
dinyaankeun aya, 
salaku nu ngawangun 
tur nu ngatur kahirupan.

Mun Gusti nu kawasa dianggap salaku 
nu ngatur 
tur nu ngawanggan kahidupan, 
terus saha atuh 
nu geus ngatur katut geus ngawangan 
Gusti nu kawasa téh?
[8/10 14.18] Aing: Hyang Agungna nu pang mimitina aya salaku Gusti nu kawasa Hatua nu saenyana, taya nu leuwih mimiti ti Gusti nu kawasa iwal ti kosong molongpong, mantak ku kitu euweuh nu ngawangan, nu ngatur, atawa nu ngersakeun Gusti nu kawasa Hyang Agung Hatua nu saenyana.

Gusti nu kawasa lir ibarat itungan hiji nu ngamimitian sakabéh itungan, jeung euweuh nu leuwih mimiti ti itungan ka hiji iwal ti kosong molongpong.

Sang Hyang Hatua nu saenya-enyana Gusti taya ngarana, euweuh nu miheulaan jeung moal Aya tungtung lilana. Salaku nu pangheulana aya nu teu manggih pamimitian, jeung salaku nu pang tungtungna aya nu teu manggih pangbéakan.

Mun sakabéhna geus ilang musnah, Gusti nu kawasa mah angger kénéh aya salaku nu pang tungtungna aya nu teu manggih pangbéakan, saterusna ngersakeun deui kana sagagalana salaku nu pang heulana aya nu teu manggih pamimitian. Éta téh lanana Gusti.
[8/10 14.20] Aing: Hyang Agungna 
nu pang mimitina aya salaku Gusti 
nu kawasa Hatua 
nu saenyana, 
taya nu leuwih mimiti 
ti Gusti nu kawasa 
iwal 
ti kosong molongpong, mantak 
ku kitu euweuh 
nu ngawangan, 
nu ngatur, atawa 
nu ngersakeun 
Gusti nu kawasa 
Hyang Agung Hatua 
nu saenyana.

Gusti nu kawasa 
lir ibarat itungan hiji 
nu ngamimitian sakabéh itungan, 
jeung euweuh 
nu leuwih mimiti 
ti itungan ka hiji 
iwal 
ti kosong molongpong.

Sang Hyang Hatua 
nu saenya-enyana 
Gusti taya ngarana, euweuh nu miheulaan jeung 
moal Aya tungtung lilana. Salaku 
nu pangheulana aya 
nu teu manggih pamimitian, 
jeung salaku 
nu pang tungtungna aya nu teu manggih pangbéakan.

Mun sakabéhna 
geus ilang musnah, 
Gusti nu kawasa mah angger kénéh aya 
salaku 
nu pang tungtungna aya nu teu manggih pangbéakan, 
saterusna 
ngersakeun deui 
kana sagagalana 
salaku 
nu pang heulana aya 
nu teu manggih pamimitian. 
Éta téh lanana Gusti.
[8/10 14.26] Aing: Jéjér Béas : 
Pikukuh Hyang Agung
[8/10 14.28] Aing: Contona nyaéta 
gambar silangrua atawa segi tilu sarua gigirna, 
di mana 
nu pang nyungcungna 
di puncitna euweuh tungtungan deui, 
tinurup ka Gusti 
nu kawasa 
nu pang luhurna dina kaagungannana, jeung euweuh nu leuwih luhur kaagungannana 
ti batan Gusti nu kawasa. Silangrua 
nu pang handapna ngajébragan 
tinurup jeung sakur banua nu kacida legana kersaning Gusti 
nu kawasa, 
tur Gusti nu kawasa éta téh Hatua nu saenyana.
[8/10 14.36] Aing: Pangulikan Sangiang mangrupa Bagéan ti Pangulikan Panunggalan Gusti

lolobana mah jalma-jalma di Indonésia nyangkana téh yén Sangiang téh nyaéta pangulikan Gustina ageman Hindu, 
padahal mah kecap "Sang Hyang" téh euweuh nu ditulis di kitab Weda naon waé ogé, malah mah jalma-jalma Hindu di India mah 
teu warawuheun 
kana sebutan 
"Sang Hyang"téh, lantaran 
sabenerna mah pangulikan Sangiang téh nu bogana téh 
nyaéta ajaran Buhun jeung sababaraha ajaran tempatan séjénna di Indonesia.

Pangulikan Sangiang nyebar lega ti pulo Jawa, Sumatra, nepikeun ka samenanjung Malaya, jeung pulo-pulo laleutik di sabudeureunana. 

sebutan "sembahyang" asalna ti sebutan sembah katut Hyang, ngarujuk kanu sesembahan ka Sangiang. Paomongan sebutan "Sembahyang" di lingkur urang Islam Malayu jang ngagantikeun kecap sholat tina basa Arab, ngabuktikeun 
yén urang Malayu pernah wawuh kana sebutan Hyang nu hartina nyaéta Gusti nu kawasa 
dina ajaran Buhun.

Sangiang téh lainna ngaran 
tapi mangrupa hiji pangedal dina basa Buhun.

Sang asalna ti kecap sa-ang nu hartina nyaéta hiji pribadi atawa 
hiji sosok, atawa 
tunggal.

Sedengkeun Hyang hartina gaib, 

ku kituna 
teu bisa ditingali ku panon, 
teu bisa di déngé ku ceuli, 
teu bisa kaambeu ku irung, jeung 
teu bisa kacabak atawa kabedag ku awak, 

ku kituna 
teu bisa dicaritakeun kaayaannana.

Kecap Sang jeung 
kecap Hyang 
dihijikeun jadi kecap Sangiang.

ku kituna 
sakabéh nu leuwih ti hiji atawa 
ngabogaan kulawarga atawa 
ngabogaan katurunan atawa ogé 
aya tandinganana (musuh nu nandingan), atawa 
bisa ditingali jirimna, didenge sorana jeung dibayangkeun kaayaannana, 
nepikeun ka bisa dicaritakeun ucapan jeung 
lampahna 
siga singa nyaritakeun nu bisa disakséni, mangka éta téh lain Sangiang Gusti 
nu saenyana-enyana Gusti 
dina ajaran Buhun.

Tapi ku lantaran éarna 
nu sok ngahi-hijikeun antara 
pangulikan Sangiang 
nu pangulikanna téh 
ti panunggalan Gusti 
nu sajati, jeung pangulikan Gusti séjénna tinu pangulikan réa gusti, ngajadikeun kecap "Sangiang" téh 
sering disalah hartikeun. ku kituna jadi 
aya batu disebut sangiang, 
aya cai disebut sangiang, aya tempat disebut sangiang, 
jelema katut jurig gé 
aya nu disebut sangiang, éta téh 
kacida pohara dorakana mun ngarujuk kana ajaran Jati Buhun mah
[8/10 16.10] Aing: Kelir Jeung Tinurup

Jati Buhun ngahartikeun hartina kelir.


macem-macem kelir

Hideung 
nyekel harti satuhu, rempeg, jeung guyub dinu kahadéan.

Bodas 
nyekel harti, teu panceg, élodan, jeung gampang kabawa ku sakaba-kaba.

Héjo laut atawa 
héjo bulao semu hideung nyekel harti, belasungkawa, jeung nalangsa.

Héjo bulo 
nyekel harti sakabéh kahadéan.

Héjo daun 
nyekel harti subur makmur, beunghar ku dahareun.

Konéng 
nyekel harti kaijid jeung pinter kodék.

Konéng semu beureum nyekel harti degig jeung sombong.

Beureum getih 
nyekel harti kabedegongan jeung katelengesan.

Bungur 
nyekel harti bogoh jeung begér.

Kalakay 
nyekel harti soméah jeung béréhan, katut jauh tina kasombongan.

Beureum Gula 
nyekel harti basajan.

Tinurup Jati Buhun

Silangrua atawa 
segi tilu nu sarua gigirna nu kelirna hideung atawa bulao, jeung congcot, katut pamunjungan, 
éta téh mangrupa tinurup Jati Buhun.
[8/10 16.14] Aing: Silangrua 
nu puncitna nyungcung, jeung 
congcot ogé nu puncitna nyungcung, jeung Pamunjungan 
(Punden Berundak) 
nu mingkin luhur tundaganna mingkin ngaleutikan, 
tinurup ti itungan 
nu pang leutikna 
nyaéta 
hiji, 
hartina dinu pangluhur-luhurna 
aya hiji Gusti 
Sang Hyang Agung Hatua nu saenyana. 

Dihandapna 
nu jébrag, 
tinurup kanu 
legana pangersa sinareng 
pangawasa Gusti 
nu saenya-enyana Gusti nu gawasaan banua (buana) Jenat jeung sakurna banua 
nu teu manggih tungtung nu kacida legana.
[8/10 16.18] Aing: Padang
Pamunjungan Gunung Padang nyaéta situs megalitikum panggedéna di Asia Wétan ngidul jeung pang kolotna di dunya, salaku bukti ayana kamajuan Buhun mangsa baheula.


Candi Borobudur siga Pumunjungan
Candi Borobudur nyaéta candi Buddha nu mirip jeung Pumunjungan, dikira-kira Candi Borobudur téh nyaéta Pamunjungan Buhun nu dirobah jadi hiji candi Buddha. Nu dibangun ku Raja Samaratungga keur mangsa Wangsa Syailendra. Jeung diréngsékeun ku Ratu Prabudawardhani, putrina Samaratungga.[3]</nowiki>


Situs taman Purbakala Pugung Raharjo, Lampung

Situs Purbakala Pugung Raharjo di tingali di luhur.
Situs Purbakala Pugung Raharjo atawa sering disebut Taman Taman Purbakala Pugung Raharjo mangrupa Pamunjungan nu ayana di Desa Pugung Raharjo, Kacamatan Sekampung Udik, Kabupatén Lampung Timur, Provinsi Lampung.[4]

Taman Purbakala Pugung Raharjo nyaéta Pamunjungan Buhun nu saterusna dijadikeun enggon paragi ibadahna agama Hindu-Buddha dimangsa kajayaan Hindu-Buddha.[
[8/10 16.19] Aing: Pamunjungan

Pamunjungan ngandung harti nu sarua jeung silangrua nyaéta tinurup jeung Panunggalan Gusti nu kawasa. Pamunjungan téh nyaéta tinurup Jati Buhun nu mangrupa wangunan, nu biasana mah éta wangunan téh geus kuna
[8/10 16.19] Aing: Silangrua kelir héjo bulao nyekel harti welas asih, béréhan, jéung kahadéan. Silangrua Kelir héjo langit nyekel harti luhur, lega, jeung euweuh tungtungna, ngibaratkeun kanu kawasana Hyang Agung. Silangrua hideung nyekel harti pituhu kanu ageman Jati Buhum.
[8/10 16.20] Aing: Silangrua kanyaanan tinurup kanu sagala nu aya di jeroning diri jeung sagala nu aya di luareun diri.
[8/10 16.20] Aing: Congcot.

Congcot yaéta tinurup Jati Buhun nu mangrupa dahareun.
[8/10 16.20] Aing: Kelir bodas dinu sangu tinurup tinu kakosongan, teu walakaya, jeung gampang dipangaruhan, warna héjo daun ti daun cau mangaruhan ku kabeungharan jeung kasuburan.
[8/10 16.20] Aing: Musium Purna Bakti Pertiwi, nu dibangun di era kaprésidénan Suharto, di bagéan hateupna siga congcot.

Shalat Syareat,Thorekat jeung Hakekat

Shalat Syareat,Thorekat jeung Hakekat
Kalawan nyebat jeunengan Allah Swt.
لبسـم الله الرحمن الر حيم
السّلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Shalat Syareat,Thorekat jeung Hakekat
Ari shalat eta aya 3 :
صَـلاَةْ  شريعة ، طريقة ، حقيقة
1.Shalat Syare'at (صَـلاَةْ  شريعة ).
Waktuna  : dzuhur, ashar, maghrib, isya jeung subuh.
Wudhuna : ku cai anu suci tur nyucikeun.
Kibltna    : baitullah ka'bah di Mekah mukaromah.
2.Shalat Thorekat (صَـلاَةْ  طريقة )
Waktuna  : dimana-mana datang hawa nafsu.
Wudhuna  : ku cai mujahadah jeung riyadoh.
Kiblatna    : hate di jero dirina.
Ari Mujahadah jeung Riyadoh ( رِيَاضَةْ ) tina nafsu amarah anu baladna 7 tempatna dina dada :
buhlu (البُخْلُ ) hartosna koret.
hirsu (الحِرْص ) hartosna kasengsrem.
hasud (الحَسُدُ ) hartosna ngewa kana nikmat batur.
jahlu (الجَهْلُ ) hartosna bodo.
kibru ( الكِبْرُ) hartosna gumeude.
sahwat (الشَهْوَةُ ) hartosna kahayang
ghodobu (الغَضَبُ ) hartosna ambeuk
kadua nafsu loamah ( لَوَّامَةْ ) anu baladna 9, tempatna dina handapeun susu kenca dua ramo kahandap :
laum ( اللَوْم ) hartosna moyok.
hawa ( الهَوَى ) hartosna kahayang.
makru ( المَكْرُ ) hartosna nipu.
ujub ( العُجُبُ ) hartosna asa alus sorangan.
ghibah ( الغِيْبَة ) hartosna ngomongkeun batur.
riya ( الرِيَا ) hartosna hayang kapuji ku batur.
dulmu ( الظُلْمُ ) hartosna dolim.
kidbu ( الكِذْبُ ) hartosna bohong.
goflah (الغَفْلَةْ  ) hartosna poho.
Shalat Thorekat ngarana Muhasabah ( مُحَاسَبَةْ ) nyaeta mana nafsu anu atos hilang, mana pagawean anu leuwih alus di pigawena.mana nafsu anu atos hilang tina ngaruksak saperti : riya,takabur jeung bangsana.

3.Shalat Hakekat ( صَـلاَةْ  حقيقة).
waktuna  : heunte nganggo waktu.
wudhuna : ku cai Taobat ( تَوْبَةْ ) jeung Murokobah ( مُرَاقَبَةْ ).
kiblatna   : hak Allah Ta'ala ( حق الله تعالى ).
Anu tos heunteu mihak ningali kana dirina sorangan.Anu dawuhan Allah Ta'ala :

فَاَيـْنَمَـاتَوَّافَـثَـمَّ وَجْـهُ اللهِ
"kamana wae madep aranjeun maka madep kana kiblat Allah Ta'ala".

Teu nganggap waktu anu dawuhan allah Ta'ala :
عَلَى صَلَوتِهِمْ دَاءِمُـوْنَ
"kana shalatna jalma anu langgeung mayeng heunteu eureun-eureun"

Ari ngaran shalat hakekat ngarana Musaahadah

PERTELAANNANA ELMU SYARE'AT, TAREKAT JEUNG HAKEKAT

PERTELAANNANA ELMU SYARE'AT, TAREKAT JEUNG HAKEKAT

SYARE'AT
Ari syare'at teh nyaeta :
al-ahkaamul munazzalatu 'alaa rosuulillaahhi sholalloohhu 'alaihhi wa sallam
"Pirang-pirang hukum anu diturunkeun ka Rosululloh saw."
Anu maham kana eta hukum teh para Ulama, boh tina Qur'an atawa Hadits. Boh tina enas atawa istinbath.

TAREKAT
Ari tarekat teh nyaeta :
'amalu bisysyarii'ati
"Ngamalkeunnana syare'at", jeung nyandak kana perkara anu pangpentingna, jeung ngajauhan tina gampangna dina perkara anu henteu pantes digampangkeunnana, jeung ngajauhan tina perkara paharaman jeung pamakruhan, jeung ngalakonan pirang fardlu anu kaduga tina pirang pasunatan di bawah pemeliharaannana Guru anu Arif tegesna ma'rifat ka Alloh, nyaeta ahli nihayah, tegesna Mursyid.

Atawa harti tarekat teh nyaeta :
ijtinaabul manhhiyyaati zhoohhiron wa baathinaa
"Ngajauhan tina sakabeh anu dicegah dhohir bathinna", jeung numutkeun ka Pamarentah Gusti Alloh menerut kemampuhannana, ngan henteu aya jalanna atawa obatna iwal ti ku ngalobakeun dzikir ka Alloh Ta'ala.

HAKEKAT
Ari Hakekat teh nyaeta :
takholliin nafsi 'ang rozaa-ilil akhlaaqi
"Nngaberesihkeun nafsu tina kotorna akhlaq", jeung mapaesan nafsu ku pirang-pirang sifat anu dipikaridlo ku Pangeran, jeung ku akhlaq anu hade, sakira-kira kaayaan nafsu teh gampang migawe amal anu sholeh jeung gampang migawe kana amal anu hade, sahingga teu aya kacapean, balik ta lamun manehna ninggal tea mah kana amal heunteu diturut ku nafsuna.

Saenya-enyana, ari hakekat teh eta buahna tarekat.

Jeung saenya-enyana, kalakuan misti keur jalma anu ngambah jalan ka akherat kudu ngumpulkeun antarana ieu anu tilu, jeung ulah arek ngosongkeun hiji perkara tina ieu nu tilu perkara, karana saenyana Hakekat anu henteu make Syareat eta batal, jeung saenyana Syare'at anu henteu make Hakekat eta kosong.

Dawuhan Imam Maliki r.a :
mang tasyarro'a wa lam yatahaqqoq faqod tafassaqo wa mang tahaqqoqo wa lam yatasyarro' faqod tazangdaqo wa mang jama'a baynahhumaa faqod tahaqqoq
"Sing saha jalma anu migawe Syare'at tapi henteu ber-Hakekat, eta hukumna Faseq, tegesna dosa gede. Jeung saha jalma migawe hakekat tapi henteu ber-Syare'at, eta hukumna Jindiq. Sing saha jalma nu ngumpulkeun migawe syare'at jeung hakekat, mangka eta jama nyata benerna".

Ari Syare'at eta saperti jasad.
Ari Tarekat eta saperti nyawa.
Ari Hakekat eta saperti rasa.

Ari syare'at jeung hakekat eta dua-duana mulajamah, tegesna henteu bisa dipisahkeun, saperti talajumna kai jeung cai, atawa jasad jeung nyawa.

Neangan Gusti

Neangan Gusti


Gusti Allah  
euweuh tapi aya, 
aya tapi euweuh babandingannana, 

Sa-Tunggal Braja, 
dzat  Sa-Alif Tunggal, jeneng ku Anjeun 
teu bisa diumpamakeun. 

Cicingna lain 
di gunung, 
di darat, 
di laut, 
kulon, wetan, kaler, kidul tapi 
cicingna 
dina panta Maha Luhur, di langit aya langit karajaan Illahi 
tampa wates.

Sanajan cicing 
dina panta Maha Luhur,  jauh tapi deukeut, deukeut tapi jauh 
pikeun nu teu iman. Karasa, kacampa, 
tapi teu katempo. 

Deukeutna Allah jeung manusa 
ibarat gula jeung amisna, uyah jeung asinna, seuneu jeung panasna, angin jeung tiisna, 
cai jeung nyecepna, kembang jeung seungitna 
sabab 
dina sajeoreun 
diri manusa 
Allah ngancikeun Sirullah, 
nurullah, 
dzatullah, 
sifatullah, 
asmalullah, 
af’alullah, 
kodratullah, 
wujudullah, 
nikmatullah, 
rahmatullah. 

Allah 
Maha Ninggal, 
Maha Uninga, 
Maha Ngadangu, 
Maha Ngatur, 
Maha welas, 
Maha Asih.

Neangan Allah 
kudu nyaho getih sorangan, 
tapi 
lain sagetih-getihna. 

Tumanya  
aya naon dina diri. 

Lamun hayang nyaho anu caang 
kudu cicing di nu poek, 

lamun hayang nyaho anu poek 
kudu cicing di nu caang. 

Hayang apal 
ka nu teu ngawujud 
kudu ngaji nu ngawujud. 

Sagala rupa nu teu ngawujud jeung 
nu ngawujud 
dadamelan Gusti Allah. 

Mun geus wawuh jeung dirina 
bakal wawuh jeung Gusti-Na.

Marifat ka Gusti 
kudu ngagunakeun parabot 
nu nyampak dina diri,  sirnaning rasa, 
sirnaning cipta, 
sirnaning karsa, sirnaning karya. 

Sir budi cipta rasa, 
sir rasa papan raga, 
dzat marifat wujud kaula maring Allah, 
maring malaikat, 
maring Rasul 
sangkan hirup hurif 
maot sampurna.

Maot sampurna 
mulih ka jati 
mulang ka asal, 

nu asalna tina taneuh balik ka taneuh, 

nu asalna tina seuneu balik ka seuneu, 

nu asalna tina angin balik ka angin, 

nu asalna tina cai balik ka cai, 

nu asalna langsung ti Allah mulang ka Allah. 

Sorga hak Anjeun-Na, manusa mulang ka sorga sakadar kahayang wungkul.

Jalan ka sorga ngaliwatan alam syareat gawe wujud jeung 
gawe kolbu. 

Gawe wujud ngalaksanakeun pakemanna 
ngajauhkeun larangannana,

gawe kolbu 
mancegkeun kayakinan, sabar tawakal, 
renghap pasrah sumerah diri kana pangersana, ikhlas dina pirang-pirang perkara kahadeaan, jembar manah, 

iman dina sajeroning kaimanan, 
ngahijikeun rasa dina sajeroeun rasa, muasakeun panca indra, merenahkeun napsu dina tempatna, 
samemeh mikir kudu ges nepi, 
nganyatakeun kasolehan nyembah Allah jeung nganyatakeun kasolehan jeung papada manusa.

Sorga nu jauh 
di arudag-udag, 
sorga nu deukeut dipopohoken, 

indung tunggulna rahayu, bapa tangkalna darajat, 

pitutur indung matak metu, 
nasehat bapa matak teurak, 

nukang nonggong 
ka indung bapa 
waruga kabalur ku dosa. 

Muji ka gusti, 
munyung ka indung, muja ka bapa, 
sorga aya dina damapal suku indung jeung bapa. 

Doraka ka indung bapa tanawuruh mulang 
ka sorga 
tapi 
balik ka naraka jahanam.

Kudu Wawuh Jeung Diri

Kudu Wawuh Jeung Diri

“Sir indung sir bapa gumulung di kenya puri, sabulan ngaherang, 
dua bulan kumambang, tilu bulan gumulung, 
opat bulan mangrupa, lima bulan sangga raja, genep bulan ratu mungkala, 
tujuh bulan kamarullah, dalapan bulan Nur-Allah, salapan bulan medal ka dunya. 

Satetes banyu 
Bak nyungkring kancana raden mas pangeran ganda raja ratu wisesa nyusup kalbuna, 
nyelap manahna, 
welas asihnya Gusti.

Dulur nu teu ngawujud jadi manusa kawas dulurna sakabeh, 
nyakitu deui 
Naga Kancana oge sarua. 

Dulur nu teu ngawujud aya opat perkara, 
dulur nu ngawujud aya opat jumlah 
sakabeh dalapan perkara.

Dulur batin anu opat kakang kawah, 
tali ari-ari, 
antamaya, 
antasari (ngaran malaikat), 
papat kalima pancer 
guru mursid sukma sajatining manusa 
nu ngusik malikeun sarangka waruga.

Diaping ku nu suci diraksa ku kawasa, 
nu ngaping manusa 
aya opat 
jenengan malaikat Zabariyah, 
Ariyah, 
Syiriah, jeung 
Mariyah. 

Arinyana Nyaksi  
tekad hade gorengna, ucap, 
lampah paripolah. 

Dulur wujud anu opat 
nu nyicingan 
pulau nyawa raga awak manusa 
nyaeta 
Sanghyang Sirah, Sanghyang Puseur, Sanghyang Dampal, jeung 
Sanghyang Raga Awak.

Sanghyang Sirah cicingna dina 
otak Ajna jeung 
otak cakra mahkota, 

Sanghyang Puseur cicingna dina 
gumpalan getih hideung, 

Sanghyang Dampal cicingna dina 
sumsum balung, 

Sanghyang raga awak cicingna dina 
sakujur awak. 

Nu ngusikeun raga awak sakujur nyaeta  
sukma (malaikat rohani), raga (roh jasmani), jeung nyawa (napas). 

Parabotna elmu 
syareat, 
torekat, 
marifat, jeung 
hakekat. 

Ngisat awak kudu apal ka diri sorangan, 

sabenerna aya naon 
dina diri manusa 
diantara 
kuring jeung kurungna. 

Aya  genep perkara 
nu asalna ti indung 
jeung 
dalapan perkara  
nu asal ti bapa, 

tilu perkara  
langsung ti Allah 
nyaeta 
cahaya, 
atma (nyawa) jeung sukma sajati.

Parabotna elmu 
syareat, 
tarekat, 
marifat, jeung 
hakekat. 

Pangbutuh rohani 
dzikir, 
mikir, 
hiburan. 

Pangabutuh raga awak dahar jeung 
nginum 
nu teu lepas ti 
cai, 
angin. 
Seuneu, jeung 
taneuh.

Parabot bakti ka diri nyaeta 
rasa, 
rumasa, jeung 
tumarima. 

Mun geus bisa nelebkeun tilu perkara eta 
dina kalbu 
tandana manusa 
geus bisa 
bakti ka dirina, 
bakti ka Gustina, jeung bakti ka papada manusa katut mahluk pangeusi alam. 

Teges  pikeun jalma 
nu can bisa  nelebkeun rasa, 
rumasa, 
tumarima 
dina kalbuna 
tandana can bisa ngalaksanakeun sahadat.

Ngagindingan diri  
ngaji kitab 
ulah jauh ti diri, 
mun jauh tina diri 
bakal lali ka wiwit 
bijil sasar mapay sagara, jati ka silih ku junti,  
nu enya di lain-lain, 
nu lain di enya-enya,
nu sugan di enyakeun, 
nu enya disugankeun

Kuduna 
mesek cangkang 
nyokot eusi, 
sikina dipelakeun cangkangna tong dipiceun 

Ngaji kudu ngajirim. Panarimaning iman 
ka Allah 
nyaeta 
iman kana 
dzatna, 
sifatna, jeung 
asmana. 

Pikeun nu geus ngarasa genah iman ka asmana, ulah mopohoeun 
iman ka dzat jeung sifatna. 

Jalma nu nareangan 
dzat jeung sifatna 
ulah dianggap kufur.