Minggu, 09 Oktober 2022

Sudut Pandang Pikukuh Sunda Tentang Proses Penciptaan & Dinamikanya

BAGIAN 1-

Sudut Pandang 
Pikukuh Sunda 
Tentang Proses Penciptaan & Dinamikanya



 Sampurasun

1. 
Pitutur para sepuh tentang proses terjadinya Sunda & Planet Bumi 



Awalnya 
Yang Maha Kuasa membentuk 
“Jagat Suwung”, 
yaitu 
‘sesuatu’ 
yang gelap, kosong, hening. 
Tidak ada barat, timur, utara, selatan, singkatnya… 
sebuah keadaan yang sulit terciptakan 
(cipta = pikir).

Tahap selanjutnya 
Yang Maha Kuasa menghadirkan suatu suara seperti 
“Tawon Laksaketi”
(berjuta-juta tawon) 
yang berbunyi “Huuuung…”. 

Dunia ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Suara Kosmik”.

Dari pusat suara munculah jentik-jentik sinar cemerlang 
“Hyang Putih / Ingyang Putih”
sebesar ‘sayap nyamuk’. 

Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern model ini disebut “molekul cahaya”. 

Semakin lama semakin menggumpal, membesar dan terus membesar.

Gumpalan, kumpulan molekul (atom ?) itu semakin lama semakin besar dan memadat maka jadilah 
“Sang Hyang Tunggal”, sebuah sumber cahaya gemilang yang agung dan suci serta tidak ada bandingnya.

Atas kehendaknya 
(Yang Maha Kuasa ?), Sang Hyang Tunggal memecah dirinya menjadi beberapa bagian dan menyebar 
di Jagat Suwung. 

Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Big Bang”, istilah itu dipelopori oleh Stephen Hawking.

Pecahan dari 
Sang Hyang Tunggal menyebar mengisi 
Jagat Suwung dan kembali menjadi jentik-jentik sinar 
yang berpencar. 

Saat ini 
kita mengenalnya dalam tiga (3) kelompok : Kartika(Bintang), 
Surya (Matahari), Chandra (Bulan) 
atau sering disebut sebagai susunan 
“Tata Surya”.

Salah satu dari milyaran tata surya pengisi 
Jagat Suwung 
adalah 
Matahari 
yang dikelilingi oleh planet-planet, dan planet-planet tersebut pun hasil pemisahan (ledakan) dari 
Matahari itu sendiri.

Maka, 
Matahari kita itu merupakan putra dari Sang Hyang Tunggal 
dan atau cucu dari Hyang Putih.

Matahari dikenal sebagai Sang Hyang Manon atau lebih populer disebut Batara Guru 
yang artinya adalah “yang senantiasa memberikan / menyampaikan penerang sebagai 
cahaya kehidupan (*gerak)”.

2. Arti Kata “Sunda”.

Matahari 
adalah “api sejati yang sangat besar” dan dituliskan dalam susunan kata 
SU(sejati) – 
NA (api / geni / agni) – DA (agung / besar /  
       gede) 
atau sering disebut sebagai
SUNDA.

Kita dapat menemukan istilah “Sunda” 
dalam beberapa penamaan seperti; 

Gunung Sunda (+Purba), Selat Sunda, 
Sunda-Ra, 
Kepulauan Sunda Besar – Sunda Kecil, dst. 

Bahkan seorang 
filsuf Yunani, Plato menyebutnya sebagai Sunda-Lan atau Ata-Lan atau boleh jadi artinya sama dengan Atlan (Atlantis).

Maka, 
Sunda sama sekali bukan nama sebuah ras atau suku pun etnis, apalagi hanya berupa batas wilayah sebesar Jawa-Barat. 
Sebab, 
Sunda merupakan tatanan besar yang berlandas kepada nilai-nilai filosofis “ke-Matahari-an”.

Betul bahwa pusat “Sunda” itu ada 
di Jawa Barat 
hal tersebut karena keberadaan 
Gunung Sunda Purba / Gunung Matahari / Gunung Batara Guru / Gunung Cahaya, 
dalam bahasa Yunani kuno disebut sebagai Gunung Olympia (Olympus = Cahaya) dikenal sebagai 
tempat tinggal 
para dewa. 

Hal ini pula yang menyebabkan mayoritas wilayah di Jawa-Barat menggunakan istilah 
“Ci” artinya “Cahaya”. 

Istilah ”Ci” tentu tidak sama dengan “Cai”  
yang berarti 
kemilau yang dipantulkan dari permukaan tirta / banyu / apah / air.

3. Sang Guru Hyang & Da 
    Hyang Sumbi

Dari cerita 
Wayang Purwa dikisahkan bahwa
Batara Guru 
jatuh cinta kepada 
Batari Uma / Dewi Uma.

Batari Uma 
berobah menjadi 
Batari Durga & 
dikawini oleh 
Batara Kala.

Arti kata “Guru” adalah yang selalu bersinar / senantiasa menerangi / pemberi kebenaran. 

Sedangkan arti kata “Batara” ialah 
“yang menyampaikan (yang menyinari) 
gerak kehidupan”.

Dalam pikukuh Sunda keluhuran budi-pekerti & dharma bakti agung pada diri seseorang menyebabkan ia layak (disetarakan) sebagai sosok “Guru”. 

Adapun derajat yang tertinggi dan paling sepuh disebut 
Sang Guru Hyang 
(Sang Guriang) 
yang artinya adalah 
Saka Guru
(Guru yang Tertinggi / Puncak tertinggi dari segala Guru / Cahaya) dan itu sama dengan
Matahari 

disisi lain hal tersebut maknanya sama dengan “Sunda”.

Batari Uma 
(Ma / Umi / Ambu / Ibu / Umbi / Bumi) sesungguhnya merupakan pecahan dari Matahari 
(Batara Guru / Sunda), didapat dari hasil ledakan besar yang kemudian bergerak mengeliling Matahari menjadi bagian dari Tata-Surya 
(Solar System).

Batari Uma atau 
Dewi Uma 
pada mulanya 
bersinar terang seperti halnya Batara Guru, namun lama-kelamaan sinarnya semakin padam dan permukaannya berobah menjadi tanah yang bergelombang. 

Tentu saja hal tersebut akibat ia menjauh dari Matahari (Batara Guru), 

kejadian itu diumpamakan sebagai “kutukan” Batara Guru kepada Dewi Uma 
yang kemudian berobah nama menjadi 
Batari Durga 
yang buruk rupa.

Setelah Dewi Uma kehilangan cahaya dan menjadi Batari Durga maka ia dikawini oleh Batara Kala, 
yang artinya ialah terkena hukum “waktu” maka 
terjadilah peristiwa waktu & ruang 
di planet Bumi.

Waktu (Kala) 
ditentukan oleh Matahari

Ruang (Pa) 
ditentukan oleh Bumi

Namun demikan, walaupun Dewi Uma telah menjadi 
Batari Durga 
ia masih mengandung putra dari Batara Guru dan saat ini kita menyebutnya sebagai “Magma” 
(api yang ada di perut Bumi) 
yang kelak melahirkan berbagai jenis batuan serta unsur-unsur lainnya sebagai penunjang kehidupan 
para penduduk Bumi.

Peristiwa tersebut dalam Pikukuh Sunda diabadikan dengan sebutan Bua-Aci (‘buah’-aci) 
atau lebih dikenal sebagai 
Sang Hyang Pohaci, 
yang senantiasa memberikan kesuburan (*kehidupan)
kepermukaan tanah. 

Dari sebutan atau ungkapan tersebut
pada saat sekarang membuat kita mengenal istilah “buah” 
(*phala / pala / pahala) serta istilah “Bua-na” yang kelak berobah menjadi Banua (Benua).

 

Perobahan dari 
Dewi Uma menjadi 
Batari Durga 
(*karena tertutup tanah) menyebabkan perut Bumi harus dapat
mengeluarkan 
panas Bumi (magma), maka 
lahirlah sebuah “cerobong raksasa” 
yang disebut sebagai Gunung Sunda 
(Gn. Batara Guru).

Pada dasarnya 
Dayang Sumbi itu 
berasal dari kata Da-Hyang – Su-Umbi , yang artinya :
Da = Agung / Besar
Hyang = Moyang / Eyang / Biyang / Leluhur / Buyut.
Su = Sejati
Umbi = Ambu / Ibu

Dayang Sumbi mengandung makna: Leluhur Agung Ibu Sejati atau setara dengan sebutan 
Buana / Ibu Pertiwi / Bumi / Earth.

Maka jika disimpulkan, kisah / legenda 
Sang Guru Hyang & 
Da Hyang Su Umbi 
itu lebih kurang memaparkan tentang kejadian / hubungan antara 
Matahari & Bumi, keberadaan   
“Waktu & Ruang” 
(Kala & Pa) 
dan khususnya berceritera tentang 
“awal kehidupan manusia di muka Bumi” 

yang intinya menyatakan bahwa 
“waktu & ruang merupakan hukum kehidupan”.

 

4. Situmang = Trisula 
    Naga-Ra

 

Dalam kisah 
Sang Guru Hyang diceriterakan bahwa Dayang Sumbi 
pada akhirnya kawin (bersanding) dengan Situmang, 
yaitu seekor anjing 
yang membantu membawakan gulungan benang yang terjatuh ketika Dayang Sumbi sedang menenun. 

Perkawinan mereka menghasilkan sosok Sangkuriang 
(Sang Guru Hyang).

‘Sangkuriang’ 
atau sebut saja 
Sang Guru Hyang 
yang ke II ini 
maknanya adalah kelahiran 
Negeri Matahari (Dirgantara) 
sebagai pusat Keratuan / Keraton Dunia, 
atau 
kelahiran pola ketata-negaraan 
yang pertama di dunia yang ditandai oleh Gunung Sunda Purba atau 
Gn. Matahari / 
Gn. Batara Guru. 

Saat ini tersisa sebagai Gn. Tingkeban Pa-Ra-Hu, dan 
sekarang kita menyebutnya sebagai Gn. Tangkuban Parahu.

Setelah keberadaan wilayah beserta penduduknya, 
bentuk kemasyarakatan diawali dengan adanya
Tata / Aturan / Hukum yang berupa 
Tri Su La Naga-Ra 
(Tiga Kesejatian Hukum pada sebuahNegara), atau dalam 
silib & siloka SITUMANG yaitu terdiri dari :

– Rasi / Datu berkedudukan sebagai pengelola kebajikan, wilayahnya disebut “Karesian / Kadatuan atau Kedaton”.

– Ratu 
berkedudukan sebagai pengelola kebijakan, wilayahnya disebut Keratuan / Keraton.

– Rama 
berkedudukan sebagai pembentuk kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut“karamat” atau sering disebut sebagai “kabuyutan” atau wilayah para leluhur / luhur / gunung (*?) = 
(tanah suci).

– Hyang 
merupakan sumber ajaran kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut Pa-Ra-Hyang.

 

 

Adapun sosok binatang “anjing” 
merupakan metafora atau perumpamaan dari watak “kesetiaan”. 

Simbolisasi tersebut tentu sangat sesuai dengan kenyataan yang berlaku dan layak dipergunakan sebagai pola tanda seperti halnya Sang Hyang Gana (Ganesha) 
yang mempergunakan siloka “gajah”, 
atau pun 
konsep pemerintahan yang dilambangkan dalam bentuk “harimau” 
(mang / hitam – 
ang/merah  – 
ung/putih = maung).

 

5. Awal Kenegaraan 
    Dunia 
“Layang Saloka Domas & Saloka Nagara”

Secara logika tentu 
awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, 
yaitu : 
kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, 
aparatur pemerintahan, serta pengakuan. 

Tanpa salah-satunya terpenuhi 
maka tidak layak 
disebut sebagai 
sebuah negara.

 

Maka demikian pula dengan 
kelahiran pemerintahan di tatar Sunda 
yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) 
diawali dengan adanya sebuah Keratuan 
yang bernama
“Salokanagara / Salakanagara”. 

Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” 
yang menjadi sebuah peraturan / hukum. 

Itu sebabnya 
masyarakat kita mengenal istilah 
“Layang Saloka Domas” yang artinya :

–  La = Hukum

–  Hyang = Leluhur

–  Sa = Esa / Tunggal / 
    Satu

– Loka = Tempat/ 
                 Wilayah

– Domas = Tidak 
                     Terhingga / 
                      invinity / 

Arti keseluruhannya ialah :  
Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.

 

Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan 
wilayah kekuasaan hukum 
yang sangat besar.

Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :

– Sa = Esa / Tunggal / 
            Satu

– Loka = Tempat / 
                 Wilayah

– Naga = *…lambang 
                 penguasa darat 
                 laut (samudra)

– Ra = Matahari

Saloka Naga-Ra 
berarti : 
Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.

 

6. Aki ‘Tirem’

Menyentuh jaman 
Saloka Nagara 
tentu tidak terlepas dari keberadaan Aki Tirem yang mempunyai makna sebagai berikut;

– Aki = Leluhur / 
             Kokolot / 
             Sesepuh / 
             Tohaan / Tuhaan 
             (‘Tuhan’).

– ‘Tirem’ = (…………

beberapa kemungkinan arti) :

Tarum / Taru-Ma (Kalpataru / pohon hayat / kehidupan).

Ti-Rum / Rumuhun

Ti-Ram / Rama

Jika “Tirem” itu 
adalah kata lain dari “Taru-Ma” 
(*taru = tree / pohon, dan ma = uma / bumi / ambu / ibu) 
maka istilah 
“Aki Tirem / Taruma” 
bisa mengandung makna sebagai 
“Pohon keluarga 
para leluhur Bumi”.

 

Tabe Pun, Rahayu Sagung Dumadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar